5 Anak Yang Mampu Menemukan Terobosan Di Bidang Kedokteran | 5berita.com
Suman Mulumudi

5 Anak Yang Mampu Menemukan Terobosan Di Bidang Kedokteran

Anak di usia remaja umumnya baru mulai mencari jati dirinya, Bahkan mereka biasanya masih asing dengan perubahan hormonal pada tubuh mereka sendiri. Tetapi tidak semua anak remaja seperti itu. Ada beberapa anak ajaib yang bahkan mampu melakukan sesuatu yang tidak semua orang dewasa dapat melakukannya, Mereka sudah berhasil melakukan terobosan di bidang kedokteran seperti penyembuhan kanker dan penyakit mematikan lainnya.

Jika ada anak remaja yang mau mempelajari bahan-bahan “berat” seperti itu saja sudah membuat kita menjadi takjub, anak-anak remaja dalam artikel ini bertindak lebih jauh dengan berhasil melakukan terobosan di bidang medis dalam usia yang masih terbilang dini.

Berikut 5 Anak Yang Mampu Menemukan Terobosan Di Bidang Kedokteran :

1. Jack Andraka

Jack Andraka

Kanker pankreas adalah salah satu jenis kanker dengan tingkat kematian paling tinggi karena kecepatan penyebarannya. Pasien harus diambil sampelnya dan diuji di lab yang membutuhkan waktu lama karena metode pengujian yang digunakan masih tradisional. Hal ini sangat mengganggu Jack Andraka yang kala itu berusia 14 tahun ketika teman dekatnya meninggal karena kanker ini. Dia kemudian mulai melakukan penelitian tentang kanker pankreas.

Setelah mendapatkan hipotesis penelitiannya, Jack kemudian mengirim 200 proposal tentang hal ini kepada organisasi riset kanker di seluruh Amerika. Dia menerima 199 penolakan, beberapa bahkan dengan melampirkan kritikan pedas tentang hipotesisnya. Tetapi tidak dengan Dr. Anirban Maitra, kepala riset kanker di University of Texas, dia mau membantu Jack. Setelah berkutat di lab selama tujuh bulan sepulang sekolah dan saat liburan, Jack mampu menemukan formula untuk mendeteksi mesothelin, sebuah protein yang diproduksi tubuh saat kanker pankreas masih dalam stadium dini. Metode Jack ini hanya membutuhkan waktu lima menit dan biaya tidak lebih dari $50 dan tidak hanya untuk kanker pankreas tetapi bisa juga digunakan untuk kanker paru, rahim, dan payudara. Berkat penemuannya ini Jack memenangkan Smithsonian American Ingenuity Award dan diterima di Stanford pada tahun 2015.

2. Suman Mulumudi

Suman Mulumudi

Saat makan malam bersama kedua orangtuanya, Suman Mulumudi mendengar keluhan ayahnya yang bekerja sebagai seorang dokter tentang sulitnya menggunakan stetoskop untuk mendeteksi pasien yang mempunyai jantung lemah. Ayah Suman biasanya menggunakan echocardiogram untuk kasus semacam ini. Masalahnya adalah echocardiogram butuh waktu lama dan mahal. Saat itulah Suman yang waktu itu berusia 15 tahun menemukan ide untuk menolong ayahnya.

Beberapa waktu kemudian Suman berhasil mengembangkan “Steth IO”, aplikasi smartphone yang bisa disambungkan dengan stetoskop. Cara kerjanya sama dengan stetoskop biasa tetapi dengan akurasi yang jauh lebih baik. Suaranya lebih terdengar jelas sekaligus ada tampilan grafis dari detak jantung pasien. Karena aplikasi ini, Suman mendapat beasiswa di Lakeside School, Seattle, sebuah sekolah bergengsi dimana Bill Gates dan Paul Allen dulu pernah bersekolah.

3. Serena Fasano

Serena Fasano

Di negara-negara dunia ketiga, bakteri E. coli yang menyebabkan diare masih menjadi momok yang menakutkan. Diperkirakan sekitar enam juta jiwa melayang setiap tahun karenanya, kebanyakan adalah anak berusia dibawah dua tahun. Serena Fasano yang masih berusia 13 tahun masih belum tahu tentang fakta tersebut ketika memakan yogurt di rumahnya. Saat membaca bahan-bahan yogurt di kardus kemasan dia membaca tentang lactobacillus, sesuatu yang asing baginya.

Saat itulah minatnya untuk mempelajari bakteri ini timbul dan dengan sampel bakteri E. coli dari ayahnya, dia memulai riset pertamanya. Tiga tahun kemudian gadis kecil ini mampu menemukan substansi apa yang terkandung dalam yogurt yang mampu mematikan bakteri E. coli. Pada tahun 2006, Serena mematenkan penemuannya. Kini substansi yang ditemukan Serena telah banyak digunakan oleh produsen makanan dan minuman.

4. Angela Zhang

Angela Zhang

Di saat masih berusia belia, ketika anak-anak yang lain masih sibuk bermain, Angela Zhang telah mulai membaca riset ilmiah tentang bio engineering. Bacaan ini memang terlalu berat untuk anak sesuai ini, tetapi Angela rupanya menyukainya. Menurutnya ketika dia membaca bahan-bahan yang berat seperti ini, seolah-olah dia sedang bermain puzzle. Di saat duduk di bangku SMP, dia telah memulai risetnya sendiri untuk menyembuhkan kanker.

Ide dasarnya adalah mencampur obat untuk kanker dengan sejenis polymer yang kemudian dimasukkan ke dalam nanopartikel. Campuran ini lalu disuntikkan ke tubuh pasien. Ketika bertemu dengan sel kanker di dalam tubuh, nanopartikel ini akan melekat sehingga memudahkan dokter menganalisa dimana tepatnya sel kanker tersebut berada. Ketika sel-sel kanker tersebut disinari dengan infra merah, polymer yang terkandung dalam campuran tersebut akan mencair dan melepaskan obat yang terkandung di dalamnya dan pada akhirnya akan membunuh sel-sel kanker tanpa merusak sel-sel tubuh yang sehat. Penemuannya ini berhasil memenangkan National Siemens Math, Science, and Technology Competition pada tahun 2011.

5. Brittany Wenger

Brittany Wenger

Sejak masih kecil Brittany Wenger telah jatuh cinta dengan dunia komputer. Salah satu aspek yang mampu menarik perhatiannya adalah Artificial Intelligence (AI). Ketika mempelajari AI inilah Brittany mulai belajar pula bahasa pemrograman. Karena suka bermain bola, Brittany kecil pun mulai membuat program AI yang mampu bermain sepakbola sendiri. Sebelum program ini rampung, saudara sepupunya didiagnosa menderita kanker payudara.

Brittany pun seketika menghentikan program AI sepakbola tersebut dan mulai membuat program AI yang mampu mendiagnosa kanker payudara sejak dini. Ketika berbicara dengan sepupunya, Brittany mengetahui bahwa metode diagnosis kanker payudara paling mudah dan murah adalah Fine Needle Aspirates (FNA). Sayangnya metode ini kurang akurat, karena itu Brittany memutuskan untuk membuat program untuk memperbaiki metode tersebut. Maka lahirlah program AI “Cloud4Cancer” yang mampu memproses sampel dari tes FNA yang sebelumnya terlalu rumit untuk dianalisa manusia. Dengan program ini, tes FNA kini mempunyai akurasi sebesar 99.1 persen. Brittany pun berhasil memenangkan Google Science Fair pada tahun 2012 dan diundang ke Gedung Putih untuk bertemu presiden Obama.купить ресницырейтинг mfxbrokerкупить хорошийинструменты в конкурентной разведке