5 Cerita Rakyat Indonesia yang Me-Legenda | 5berita.com

5 Cerita Rakyat Indonesia yang Me-Legenda

Bagi kalian yang lahir tahun 90an kebawah pasti sudah tak asing dengan yang namanya cerita rakyat. Cerita rakyat merupakan cerita yang biasanya fiksi namun menceritakan tentang kehidupan ataupun asal mula sesuatu di zaman dulu. Cerita rakyat banyak mengandung nasehat dan pelajaran – pelajaran yang membuat pendengar atau yang membaca menjadi lebih bijak. Namun seiring berkembangnya zaman, cerita rakyat mulai dilupakan dan jarang dibahas, meskipun ada beberapa cerita yang terus dan tetap melegenda seperti 5cerita rakyat berikut ini:

1. Bawang merah dan bawang putih

1. Bawang merah dan bawang putih

bawang_merah__bawang_putih_by_al_shira_aohoshi-d7vt5o4

“Bawang Merah Bawang Putih” adalah salah satu cerita rakyat yang berasal dari Indonesia yang bercerita tentang seorang gadis yang dianiaya oleh ibu tirinya sendiri yang pada akhirnya menikah dengan seorang pangeran tampan dan hidup bahagia.

Pada cerita “Bawang Merah Bawang Putih” menceritakan tentang di suatu desa terdapat seorang gadis yang sangat cantik yang bernama Bawang Putih. Bawang Putih tinggal bersama ibu tiri dan saudara tirinya sedangkan ibu kandung dan ayahnya sudah lama meninggal pada saat itu. Ibu tiri dan anaknya yang bernama Bawang Merah sangatlah kejam dan selalu bertindak semena-mena kepada Bawang Putih. Bawang Merah dan ibunya sangat serakah dan mereka ingin merampas harta yang dimiliki Bawang Putih. Hampir semua pekerjaan rumah dikerjakan oleh Bawang Putih yang selalu disuruh oleh ibu tirinya dan Bawang Merah. Dari mulai memasak, mencuci piring, membersihkan rumah, hingga mencuci baju.

Suatu hari ibu tirinya menyuruh Bawang Putih mencuci baju disungai, tiba-tiba baju Bawang Merah yang dicuci Bawang Putih hanyut terbawa arus sungai. Betapa paniknya Bawang Putih, ia pun bergegas mencari baju itu sampai ketemu, namun baju tersebut tidak ketemu. Bawang Putih pun duduk di pinggir sungai dengan perasaan kecewa dan gelisah. Tiba-tiba muncullah seekor ikan mas di hadapan Bawang Putih. Bawang Putih pun terkejut karena sepertinya ikan mas itu bukan ikan biasa melainkan ikan ajaib karena bisa berbicara dengan manusia. Ia pun menghampiri dan bertanya kepada Bawang Putih atas sebab kegelisahannya. Bawang Putih pun menjawab dengan terbata-bata bahwa ia sedang mencari baju saudaranya yang hanyut di sekitar sungai tersebut. Ikan mas segera pergi dan kembali dengan membawa sehelai baju berwarna merah yang dicari-cari Bawang Putih.

Betapa terkejutnya Bawang Putih karena baju tersebut ialah baju yang ia maksud dan ditemukan oleh si ikan mas. Bawang Putih sangat berterima kasih kepada ikan mas atas bantuannya dan ikan mas pun juga senang karena telah membantu dan menawarkan bantuan kepada Bawang Putih setiap saat ia butuh. Bawang Putih pun menerima tawaran tersebut dan segera pulang karena takut dimarahi oleh ibu tirinya jika terlalu lama. Ketika ia sampai di rumah, tiba-tiba ibu dan Bawang Merah memarahi Bawang Putih karena ia pulang terlalu sore. Beribu cacian dan cercaan dilontarkannya pada Bawang Putih. Bawang Putih pun hanya bisa diam dan bersabar.

Keesokan harinya, ibu tiri menyuruh Bawang Putih untuk berbelanja di pasar, namun uang yang diberi ibu tirinya hanya sedikit, sedangkan yang harus dibeli begitu banyak. Bawang Putih pun bingung bagaimana mencukupi kebutuhan yang harus dibeli dengan hanya menggunakan uang yang begitu sedikit ia terima. Bawang Putih berusaha berpikir bagaimana caranya, lalu ia ingat terhadap ikan mas dan tanpa berpikir panjang ia langsung pergi ke sungai dan menemui ikan mas. Ternyata secara diam-diam tanpa sepengetahuan Bawang Putih, Bawang Merah mengikuti dia dan tidak sengaja melihatnya sedang berbicara kepada ikan mas ajaib. Bawang Merah pun dengan cepat kembali ke rumah untuk menemui ibunya dan menyuruh ibunya membawa jala. Bawang Putih bercerita tentang kesedihannya yang harus membeli kebutuhan yang telah disuruhnya di pasar sedangkan uang yang diberikan sedikit dan tidak mencukupi untuk membeli semua kebutuhan tersebut.

Mendengar hal tersebut, ikan mas memberi sebuah kepingan emas kepada Bawang Putih dan menyuruhnya menjual kepingan tersebut ke pasar agar bisa membeli semua belanjaan yang ia tanggung. Bawang Putih sangat senang dan berterima kasih kepada ikan mas atas bantuannya.  Kemudian Bawang Putih segera ke pasar dan meninggalkan ikan mas. Tiba-tiba Bawang Merah dan ibunya keluar dari persembunyiannya lalu menangkap ikan mas ajaib dengan kasar. Ikan mas menjerit merasa kesakitan, berusaha berteriak namun tak ada yang menolongnya. Bawang Merah tertawa terbahak-bahak dan membawa ikan itu pulang.

Sesampai di rumah, Bawang Merah dan ibunya menggoreng ikan tersebut untuk diberikannya kepada Bawang Putih. Bawang Merah berteriak memanggil Bawang Putih dan memberikannya ikan mas yang sudah diggoreng itu dan menyuruhnya memakan ikan yang ia kira lauk pauk. Bawang Putih pun makan dengan perasaan heran walaupun rasanya lezat. Kemudian Bawang Merah menceritakan bahwa ikan yang dimakan Bawang Putih itu adalah sahabatnya sendiri, ikan mas. Betapa sedihnya Bawang Putih mendengar hal itu dan merasa bersalah. Segera dikuburnya kerangka ikan mas ajaib sahabatnya itu di halaman rumah, lalu kerangka ikan tersebut tumbuh menjadi pohon yang berdaun emas dan bertangkai perak.

Keesokan harinya, ada seorang pangeran yang sedang mengitari desa dan melihat pohon tersebut. Ia pun langsung menanyakan kepada Bawang Merah siapa yang menanam pohon tersebut. Dengan bangganya, Bawang Merah mengakui bahwa dirinyalah yang menanam pohon tersebut. Sang pangeran lalu mengadakan sayembara, barangsiapa yang bisa mencabut pohon tersebut akan dijadikan permaisuri jika seorang perempuan, namun jika laki-laki akan dijadikan saudara. Banyak warga yang menghampiri rumah tersebut dan mencoba mencabut pohon tersebut, akan tetapi tidak ada yang bisa melakukan hal tersebut bahkan sampai pria besar sekalipun tidak sanggup. Bawang Merah pun mencoba mencabut pohon tersebut di depan sang pangeran akan tetapi tidak bisa.

Pada saat itu Bawang Putih pun keluar dan berkata bahwa ia bisa mencabut pohon tersebut. Sang pangeran terkesima melihat Bawang Putih atas kecantikannya. Dengan yakin Bawang Putih melakukannya dan hasilnya pohon yang berdaun emas dan bertangkai perak itu pun tercabut. Melihat hal tersebut, warga pun pada kaget dan sang pangeran lalu menetapkan bahwa Bawang Putih lah yang akan menjadi permaisurinya. Bawang Putih pun dibawa ke istana oleh sang pangeran dan meninggalkan rumahnya, Bawang Merah, dan ibu tirinya yang telah berlaku kejam terhadapnya. Bawang Putih pun hidup bahagia di istana dengan sang pangeran, sedangkan Bawang Merah hanya bisa iri hati dan hidup melarat dengan ibunya.

Cerita ini sendiri ada banyak versi, namun pada intinya sama.
Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita tersebut adalah janganlah hendaknya kita hidup di dunia ini dengan penuh nafsu duniawi dan juga menyiksa seseorang yang tak bersalah kepada kita karena Tuhan melihat dari sana dan akan memberikan hal yang setimpal dengan apa yang kita perbuat. Karma does exist.

2. Malin Kundang

2. Malin Kundang

malin-kundang

Cerita Malin Kundang memang sudah banyak yang tahu, bahkan cerita malin kundang yang merupakan salah satu legenda cerita rakyat Indonesia asal Sumatera Barat ini sudah terkenal hingga di luar negara Indonesia. Dongeng yang satu ini mempunyai makna yang tidak patut dijadikan contoh dan harus dibuang jauh-jauh karena menceritakan kelakuan seorang anak durhaka.

Cerita Malin Kundang

Dahulu kala hiduplah suatu keluarga nelayan yang terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak laki-laki yang diberi nama Malin Kundang tinggal di pesisir pantai wilayah Sumatera. Keluarga tersebut sangatlah miskin, hingga pada suatu waktu karena kondisi ekonomi keluarga sudah sangat memprihatinkan maka sang ayah memutuskan untuk pergi mencari nafkah dengan mengarungi lautan yang luas untuk ke negeri seberang.

Dan setelah kepergian sang ayah tinggallah Malin Kundang dan Ibunya, Waktu demi waktu berlalu, seminggu, sebulan hingga setahun lamanya, Sang ayah malin kundang tidak juga kembali ke kampung halamannya. Dan akhirnya ibunya harus menggantikan posisi sang ayah untuk mencari nafkah. Malin Kundang termasuk anak yang cukup cerdas walaupun sedikit nakal. Pernah suatu waktu ia mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu dan akhirnya tersandung batu yang menyebabkan lengan kanannya terluka karena terkena batu. Dan luka tersebut akhirnya membekas di lengan tangan kanan Malin.

Singkat cerita Malin Kundang pun beranjak dewasa dan ia pun begitu sayang dan mencintai ibunya yang kerja banting tulang mencari nafkah setiap hari sebagai penjual kue untuk memenuhi kebutuhan keluarga termasuk dirinya. Karena merasa kasihan pada ibunya maka ia berpikir untuk membantu ibunya untuk mencari nafkah di negeri seberang dan dengan harapan ketika kembali ke kampung halamannya nanti, ia sudah menjadi orang terpandang dan kaya-raya. “Bu, ini kesempatan yang baik dan amat langka buat saya”, kata Malin. “Belum tentu ada kapal sebesar ini yang merapat dalam setahun sekali di pantai ini. Saya janji akan merubah nasib kita jika saya sudah menjadi kaya raya”.

Awalnya ibu Malin Kundang tidaklah setuju, karena mengingat sang suami yang tidak pernah kembali setelah pergi merantau. Karena Malin selalu mendesak dan bersikeras untuk memenuhi niatnya tersebut akhirnya ibunya pun rela melepas kepergian Malin walaupun dengan hati yang sedih. Malin Kundang pun berangkat dengan menumpang kapal seorang saudagar yang sekarang sudah menjadi kaya raya.

Pada pertengahan perjalanan, kapal yang ditumpangi Malin Kundang tiba tiba diserang oleh serombongan bajak laut, barang – barang di kapal laut tersebut dirampas oleh bajak laut. Dan sebagian awak kapal dan pedagang yang menumpang kapal tersebut juga dibunuh oleh mereka. Beruntunglah Malin Kundang yang sempat bersembunyi di ruang kecil yang tertutup oleh kayu sehingga terhindar dari amukan para bajak laut.

Kapal pun terkatung-katung di tengah laut, perlahan-lahan akhirnya kapal yang ditumpanginya sampai pada suatu pantai, dan dengan sekuat tenaga Malin Kundang pun berjalan terus hingga akhirnya ditolong oleh penduduk desa terdekat dari pantai dan merupakan desa yang amat subur. Malin pun tinggal di desa tersebut dan dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, akhinya ia berhasil menjadi seorang yang amat kaya raya dan ia pun mempersunting seorang gadis bangsawan yang berderajat tinggi untuk menjadi istrinya.

Berita kekayaan Malin Kundang dan pernikahannya akhirnya sampai juga ke telinga ibu Malin Kundang tersebut, dan Ia pun merasa senang sekali dan bersyukur karena anaknya telah menjadi seorang yang sangat sukses. Sejak saat itu, Ibu Malin Kundang setiap hari pergi ke dermaga untuk menantikan anaknya yang diharapkan dapat pulang ke kampung halamannya, tapi setiap kapal yang mendekat tidak dijumpai anaknya itu, dan ia yakin bahwa suatu hari pasti anaknya akan pulang menemuinya.

Beberapa waktu setelah menikah akhirnya Malin Kundang dan istrinya melakukan pelayaran dengan disertai anak buah kapal dan pengawalnya. Ibu Malin Kundang pun melihat kedatangan kapal ke dermaga dan juga melihat ada 2 orang yang berpakaian menyilaukan mata karena pernak-pernik pakaian yang tekena sinar matahari sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin sekali bahwa yang sedang berdiri itu adalah anak yang ditunggu – tunggu selama ini yaitu Malin Kundang dan istrinya.

Setelah kapal mencapai dermaga ibu Malin pun bergegas menuju dermaga kapal tersebut, Malin akhirnya turun dari kapal dan ibunya pun berdesak-desakan dengan orang yang ingin menyaksikan sepasang muda mudi tersebut. Setelah cukup dekat, ibunya pun melihat ada bekas luka di lengan kanan pemuda tersebut. Maka ibunya pun semakin yakin bahwa itu adalah Malin Kundang. Ibunya pun langsung memeluk sang pemuda tersebut. Sambil memeluk Maling Kundang, ibunya pun berkata “Malin Kundang, anakku… mengapa engkau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar ?”. Malin kundang pun terpana melihat wanita tua yang berpakaian kotor, compang-camping memeluknya Ia menjadi marah seingat Malin kalau ibunya adalah seorang wanita yang kuat dan tegar badannya yang dapat menggendong Malin kemana saja ia mau. Belum sempat berpikir dengan tenang, sang istri lalu berkata, “Wanita buruk inikah ibumu? Mengapa engaku mendustai aku?”. “Bukankah dulu kau katakan bahwa ibumu adalah seorang bangsawan yang sederajat dengan kami ?” hardik sang istri. Mendengar perkataan istrinya Malin marah karena ia akan malu dan gengsi jika hal ini diketahui oleh istrinya dan anak buahnya. Sambil marah malin pun melepas pelukan ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh. “Siapa kamu, wanita tidak tahu diri sembarangan saja mengaku-ngaku sebagai ibuku”, kata Malin Kundang kepada ibunya. Dan dalam hatinya pun berkata, seandainya saja wanita itu adalah benar ibunya maka dia pun tidak akan mengakuinya.

Wanita tua itu jatuh terduduk di pasir dan berkata lagi, :Malin.., Malin.., aku ini ibumu… Melihat wanita itu hendak memeluk kakinya, Malin menendangnya sambil berkata, “Hai, perempuan tua !!, Ibuku tidak mungkin seperti engkau yang melarat, bau, dekil”.

“Wanita itu ibumnu ?” , tanya sang istri sekali lagi. “Bukan, ia hanya seorang pengemis yang berpura-pura mengaku sebagai ibuku agar bisa mendapatkan harta dari ku”, begitu sahutan dari Malin kepada sang istri dan sambil berjalan menjauhi ibunya.
Mendengar perkataan Malin hatinya pedih bagaikan ditusuk-tusuk. Dan wanita tua itupun menengadah ke langit dan mengangkat kedua tangannya sambil ia berseru dengan hati yang terkoyak-koyak dan berderai air mata, ” Ya Allah Yang Maha Mengetahui, jikalau ia bukan anakku maka aku telah memaafkannya perbuatannya, tetapi jika memang ia adalah benar-benar anakku, Malin Kundang, aku mohon keadilan dari Mu, Ya Allah…Jadikanlah ia menjadi sebuah batu “.

Beberapa saat kemudian cuaca di sekitar laut yang sebelumnya cerah, mendadak berubah menjadi gelap, hujan turun dengan deras. Badai pun datang dengan tiba-tiba dan menghantam kapal Malin Kundang. Petirpun menyambar dan seketika kapal itu hancur menjadi berkeping-keping. Orang-orang pun berlarian untuk menyelamatkan diri dan perlahan-lahan tubuh Malin Kundang berubah menjadi kaku dan keras.

Kala itu pagi hari dan badai telah mereda, cuaca kembal normal lagi. Terlihat kepingan kapal dan tak jauh dari kepingan kapal tersebut terdapat sebongkah batu yang menyerupai tubuh manusia. Konon itu adalah tubuh Malin Kundang si anak durhaka yang terkena kutukan dari sang ibu.

Pesan yang dapat diambil dari cerita ini adalah: Hormatilah Kedua orangtuamu.

 

3. Sangkuriang

3. Legenda – Tangkuban Perahu (Sangkuriang)

sangkuriang_by_unded
Pada jaman dahulu, di Jawa Barat hiduplah seorang putri raja yang bernama Dayang Sumbi. Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Sangkuriang. Anak tersebut sangat gemar berburu di dalam hutan. Setiap berburu, dia selalu ditemani oleh seekor anjing kesayangannya yang bernama Tumang. Tumang sebenarnya adalah titisan dewa, dan juga bapak kandung Sangkuriang, tetapi Sangkuriang tidak tahu hal itu dan ibunya memang sengaja merahasiakannya.

Pada suatu hari, seperti biasanya Sangkuriang pergi ke hutan untuk berburu. Setelah sesampainya di hutan, Sangkuriang mulai mencari buruan. Dia melihat ada seekor burung yang sedang bertengger di dahan, lalu tanpa berpikir panjang Sangkuriang langsung menembaknya, dan tepat mengenai sasaran. Sangkuriang lalu memerintah Tumang untuk mengejar buruannya tadi, tetapi si Tumang diam saja dan tidak mau mengikuti perintah Sangkuriang. Karena sangat jengkel pada Tumang, maka Sangkuriang lalu mengusir Tumang dan tidak diijinkan pulang ke rumah bersamanya lagi.

Sesampainya di rumah, Sangkuriang menceritakan kejadian tersebut kepada ibunya. Begitu mendengar cerita dari anaknya, Dayang Sumbi sangat marah. Diambilnya sendok nasi, dan dipukulkan ke kepala Sangkuriang. Karena merasa kecewa dengan perlakuan ibunya, maka Sangkuriang memutuskan untuk pergi mengembara, dan meninggalkan rumahnya.

Setelah kejadian itu, Dayang Sumbi sangat menyesali perbuatannya. Ia berdoa setiap hari, dan meminta agar suatu hari dapat bertemu dengan anaknya kembali. Karena kesungguhan dari doa Dayang Sumbi tersebut, maka Dewa memberinya sebuah hadiah berupa kecantikan abadi dan usia muda selamanya.

Setelah bertahun-tahun lamanya Sangkuriang mengembara, akhirnya ia berniat untuk pulang ke kampung halamannya. Sesampainya di sana, dia sangat terkejut sekali, karena kampung halamannya sudah berubah total. Rasa senang Sangkuriang tersebut bertambah ketika saat di tengah jalan bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik jelita, yang tidak lain adalah Dayang Sumbi. Karena terpesona dengan kecantikan wanita tersebut, maka Sangkuriang langsung melamarnya. Akhirnya lamaran Sangkuriang diterima oleh Dayang Sumbi, dan sepakat akan menikah di waktu dekat. Pada suatu hari, Sangkuriang meminta ijin calon istrinya untuk berburu di hatan. Sebelum berangkat, ia meminta Dayang Sumbi untuk mengencangkan dan merapikan ikat kapalanya. Alangkah terkejutnya Dayang Sumbi, karena pada saat dia merapikan ikat kepala Sangkuriang, Ia melihat ada bekas luka. Bekas luka tersebut mirip dengan bekas luka anaknya. Setelah bertanya kepada Sangkuriang tentang penyebab lukanya itu, Dayang Sumbi bertambah tekejut, karena ternyata benar bahwa calon suaminya tersebut adalah anaknya sendiri.

Dayang Sumbi sangat bingung sekali, karena dia tidak mungkin menikah dengan anaknya sendiri. Setelah Sangkuriang pulang berburu, Dayang Sumbi mencoba berbicara kepada Sangkuriang, supaya Sangkuriang membatalkan rencana pernikahan mereka. Permintaan Dayang Sumbi tersebut tidak disetujui Sangkuriang, dan hanya dianggap angin lalu saja.

Setiap hari Dayang Sumbi berpikir bagaimana cara agar pernikahan mereka tidak pernah terjadi. Setelah berpikir keras, akhirnya Dayang Sumbi menemukan cara terbaik. Dia mengajukan dua buah syarat kepada Sangkuriang. Apabila Sangkuriang dapat memenuhi kedua syarat tersebut, maka Dayang Sumbi mau dijadikan istri, tetapi sebaliknya jika gagal maka pernikahan itu akan dibatalkan. Syarat yang pertama Dayang Sumbi ingin supaya sungai Citarum dibendung. Dan yang kedua adalah, meminta Sangkuriang untuk membuat sampan yang sangat besar untuk menyeberang sungai. Kedua syarat itu harus diselesai sebelum fajar menyingsing.

Sangkuriang menyanggupi kedua permintaan Dayang Sumbi tersebut, dan berjanji akan menyelesaikannya sebelum fajar menyingsing. Dengan kesaktian yang dimilikinya, Sangkuriang lalu mengerahkan teman-temannya dari bangsa jin untuk membantu menyelesaikan tugasnya tersebut. Diam-diam, Dayang Sumbi mengintip hasil kerja dari Sangkuriang. Betapa terkejutnya dia, karena Sangkuriang hampir menyelesaiklan semua syarat yang diberikan Dayang Sumbi sebelum fajar.

Dayang Sumbi lalu meminta bantuan masyarakat sekitar untuk menggelar kain sutera berwarna merah di sebelah timur kota. Ketika melihat warna memerah di timur kota, Sangkuriang mengira kalau hari sudah menjelang pagi. Sangkuriang langsung menghentikan pekerjaannya dan merasa tidak dapat memenuhi syarat yang telah diajukan oleh Dayang Sumbi.

Dengan rasa jengkel dan kecewa, Sangkuriang lalu menjebol bendungan yang telah dibuatnya sendiri. Karena jebolnya bendungan itu, maka terjadilah banjir dan seluruh kota terendam air. Sangkuriang juga menendang sampan besar yang telah dibuatnya. Sampan itu melayang dan jatuh tertelungkup, lalu menjadi sebuah gunung yang bernama Tangkuban Perahu.

Nilai Moral dari Legenda Sangkuriang:
Legenda Sangkuriang memberikan pelajaran moral bahwa manusia tak boleh hayati dalam kuasa ego, melainkan harus menggunakan nurani sebelum melakukan sebuah tindakan. Dalam legenda Sangkuriang ini, sifat egosentris diwakili oleh sosok Sangkuriang nan keras kepala, tak mau mendengarkan nasihat ibunya, serta tak mau menerima fenomena bahwa Dayang Sumbi nan dicintainya ternyata ibu kandungnya sendiri. Sementara, nurani terwakilkan oleh sosok Dayang Sumbi nan masih bisa menggunakan hati nurani sebagai landasan buat bertindak. Ketika ia menyadari bahwa Sangkuring ialah putra kandungnya, maka hati nuraninya pun berontak buat menghentikan egoisme Sangkuriang nan bersikeras ingin menikahinya.

4. Lutung Kasarung

4. Lutung Kasarung

lutung kasarung

Cerita Lutung Kasarung ini menjadi sebuah Cerita Legenda yang bersal dari tataran sunda atau masyarakat Jawa Barat, Lutung kasarung sendiri berarti Lutung yang tersesat, Okelah langsung saja untuk membaca Cerita Rakyat Lutung Kasarung ini.
Pada jaman dahulu kala di tatar pasundan ada sebuah kerajaan yang pimpin oleh seorang raja yang bijaksana, beliau dikenal sebagai Prabu Tapak Agung.Prabu Tapa Agung mempunyai dua orang putri cantik yaitu Purbararang dan adiknya Purbasari.Pada saat mendekati akhir hayatnya Prabu Tapak Agung menunjuk Purbasari, putri bungsunya sebagai pengganti. “Aku sudah terlalu tua, saatnya aku turun tahta,” kata Prabu Tapa.Purbasari memiliki kakak yang bernama Purbararang. Ia tidak setuju adiknya diangkat menggantikan Ayah mereka. “Aku putri Sulung, seharusnya ayahanda memilih aku sebagai penggantinya,” gerutu Purbararang pada tunangannya yang bernama Indrajaya. Kegeramannya yang sudah memuncak membuatnya mempunyai niat mencelakakan adiknya. Ia menemui seorang nenek sihir untuk memanterai Purbasari. Nenek sihir itu memanterai Purbasari sehingga saat itu juga tiba-tiba kulit Purbasari menjadi bertotol-totol hitam. Purbararang jadi punya alasan untuk mengusir adiknya tersebut. “Orang yang dikutuk seperti dia tidak pantas menjadi seorang Ratu !” ujar Purbararang.Kemudian ia menyuruh seorang Patih untuk mengasingkan Purbasari ke hutan. Sesampai di hutan patih tersebut masih berbaik hati dengan membuatkan sebuah pondok untuk Purbasari. Ia pun menasehati Purbasari, “Tabahlah Tuan Putri. Cobaan ini pasti akan berakhir, Yang Maha Kuasa pasti akan selalu bersama Putri”. “Terima kasih paman”, ujar Purbasari.

Selama di hutan ia mempunyai banyak teman yaitu hewan-hewan yang selalu baik kepadanya. Diantara hewan tersebut ada seekor kera berbulu hitam yang misterius. Tetapi kera tersebut yang paling perhatian kepada Purbasari. Lutung kasarung selalu menggembirakan Purbasari dengan mengambilkan bunga –bunga yang indah serta buah-buahan bersama teman-temannya.

Pada saat malam bulan purnama, Lutung Kasarung bersikap aneh. Ia berjalan ke tempat yang sepi lalu bersemedi. Ia sedang memohon sesuatu kepada Dewata. Ini membuktikan bahwa Lutung Kasarung bukan makhluk biasa. Tidak lama kemudian, tanah di dekat Lutung merekah dan terciptalah sebuah telaga kecil, airnya jernih sekali. Airnya mengandung obat yang sangat harum.

Keesokan harinya Lutung Kasarung menemui Purbasari dan memintanya untuk mandi di telaga tersebut. “Apa manfaatnya bagiku ?”, pikir Purbasari. Tapi ia mau menurutinya. Tak lama setelah ia menceburkan dirinya. Sesuatu terjadi pada kulitnya. Kulitnya menjadi bersih seperti semula dan ia menjadi cantik kembali. Purbasari sangat terkejut dan gembira ketika ia bercermin ditelaga tersebut.

Di istana, Purbararang memutuskan untuk melihat adiknya di hutan. Ia pergi bersama tunangannya dan para pengawal. Ketika sampai di hutan, ia akhirnya bertemu dengan adiknya dan saling berpandangan. Purbararang tak percaya melihat adiknya kembali seperti semula. Purbararang tidak mau kehilangan muka, ia mengajak Purbasari adu panjang rambut. “Siapa yang paling panjang rambutnya dialah yang menang !”, kata Purbararang. Awalnya Purbasari tidak mau, tetapi karena terus didesak ia meladeni kakaknya. Ternyata rambut Purbasari lebih panjang.

“Baiklah aku kalah, tapi sekarang ayo kita adu tampan tunangan kita, Ini tunanganku”, kata Purbararang sambil mendekat kepada Indrajaya. Purbasari mulai gelisah dan kebingungan. Akhirnya ia melirik serta menarik tangan Lutung Kasarung. Lutung Kasarung melonjak-lonjak seakan-akan menenangkan Purbasari. Purbararang tertawa terbahak-bahak, “Jadi monyet itu tunanganmu ?”.

Pada saat itu juga Lutung Kasarung segera bersemedi. Tiba-tiba terjadi suatu keajaiban. Lutung Kasarung berubah menjadi seorang Pemuda gagah berwajah sangat tampan, lebih dari Indrajaya. Semua terkejut melihat kejadian itu seraya bersorak gembira. Purbararang akhirnya mengakui kekalahannya dan kesalahannya selama ini. Ia memohon maaf kepada adiknya dan memohon untuk tidak dihukum. Purbasari yang baik hati memaafkan mereka. Setelah kejadian itu akhirnya mereka semua kembali ke Istana.Purbasari menjadi seorang ratu, didampingi oleh seorang pemuda idamannya. Pemuda yang ternyata selama ini selalu mendampinginya dihutan dalam wujud seekor lutung.

Makna yang bisa diambil dari cerita ini adalah:
Pertama jangan pernah memandang orang dari luarnya saja. Kedua iri hati menimbulkan kejahatan, sisanya bisa anda sendiri yang merenungkannya :P

5. Asal Usul Danau Toba


5. Asal Usul Danau Toba

tobva

Legenda Danau Toba ialah salah satu legenda nan paling sering diceritakan dari masa ke masa. Legenda Danau Toba ini sarat dengan pesan moral nan baik buat semua kalangan, baik buat anak-anak maupun orang dewasa.

Legenda Danau Toba dikisahkan dari sebuah desa terpencil di kawasan Sumatera Utara. Di sana tinggallah seorang petani bernama Toba. Ia berladang demi mencukupi kebutuhan sehari-hari. Ada kalanya, Toba menyempatkan diri buat memancing ikan di sungai. Biasanya, Toba dengan begitu mudah mendapatkan ikan. Namun, hari itu entah mengapa tak ada ikan nan mau memakan umpan pancingnya. Jengah, Toba nyaris putus asa. Ia mengira peruntungannya hari ini buruk. Maka, ditariklah kail pancingnya buat bergegas kembali ke rumah. Apalagi senja mulai merayap.

Namun tiba-tiba umpannya disambar oleh sesuatu. Sontak Toba berubah pikiran. Ikan ini tampaknya begitu besar mengingat kekuatan sang ikan dalam nan menarik umpan pancingnya. Gairah Toba pun bangkit. Dengan sedikit susah payah, akhirnya ia sukses mendapatkan ikan nan luar biasa besar. Toba puas dengan tangkapannya hari ini. Dari sinilah legenda Danau Toba dimulai.

Sesampainya di rumah, Toba karuan saja ingin menyantap ikan tadi sesegera mungkin. Dicarinya kayu bakar buat memanggang ikan tersebut. Namun, alangkah kecewanya Toba sebab kayu bakar tersebut habis. Ia keluar dari dapur buat mendapatkan kayu bakar.

Begitu kembali ke dapur, ia heran bukan kepalang. Toba tidak menemui ikan besar tadi. Sebagai gantinya, justru muncul perempuan cantik menawan hati. Lelaki manapun akan jatuh cinta pada pandangan pertama kepadanya. Toba nan diliputi keheranan, mempersilakan perempuan itu buat tinggal di rumahnya sebab malam sudah begitu larut. Ketika keduanya bersantap malam, perempuan tadi pun berkata bahwa ia ialah penjelmaan ikan nan ditangkap Toba tadi. Belum selesai keheranan Toba, si perempuan menyebutkan bahwa ia dapat menunjukkan bukti.

Legenda Danau Toba pun berlanjut. Selama ini, Toba dikenal sebagai petani nan sederhana. Ia tak memiliki sekeping emas pun. Namun, di dapur terdapat beberapa keping uang emas nan berasal dari sisik ikan nan menjelma sebagai perempuan ini. Toba nan dilanda asmara, akhirnya mengajak perempuan itu buat menikah.

Toba sendirian di rumahnya nan jauh dari tetangga. Setelah beberapa lama, dan setelah mempertimbangkan masak-masak, perempuan tadi menerima lamaran Toba. Namun, ada satu syarat nan harus dipenuhi. Yaitu, jangan sampai suatu saat nanti, sengaja atau tidak, Toba membocorkan misteri bahwa ia jelmaan ikan.

Toba nan dimabuk asmara, mengira syarat itu begitu mudah. Ia mengiyakan saja hal tersebut tanpa berpikir panjang. Kelak, sikap Toba nan meremehkan keadaan inilah nan menjadi petaka dalam legenda Danau Toba. Hari berganti, musim berlalu. Tak terasa sudah beberapa tahun keduanya menikah. Pasangan ini sudah dikaruniai anak lelaki bernama Samosir.

Anak ini begitu disayang oleh sang ibu sehingga sedikit pemalas dan rakus dalam urusan makan. Suatu ketika, Samosir diminta ibunya buat membawakan makanan kepada sang ayah nan bekerja di ladang. Samosir mematuhi perintah ibunya. Namun, di tengah jalan, terbetik keinginan buat memakan lauk protesis ibunya nan begitu lezat.

Samosir mengira, niscaya ayahnya akan maklum jika ia menyantap lauk tersebut. Hanya sedikit saja nan disisakan buat sang ayah. Maka, begitu tiba di ladang dan menyodorkan makanan, Samosir langsung dimarahi sang ayah. Bagaimana mungkin seorang ayah, nan bekerja di ladang dengan bercucuran keringat, harus memakan bekas santapan sang anak?

Samosir dibentak sang ayah habis-habisan. Saking jengkelnya dengan sang anak, Toba gagal menjaga diri. Ia terlanjur berkata kepada Samosir, “ Dasar anak ikan! ”. Mendengar ucapan sang ayah, Samosir bagaikan tersambar petir di siang bolong. Ia berlari ke rumah dengan bercucuran air mata, tidak percaya bahwa ia cuma keturunan ikan.

Toba bukan tidak menyadari kekeliruannya. Ia berusaha mengejar Samosir. Namun, takdir berbicara lain. Inilah titik paling menentukan dalam legenda Danau Toba . Samosir mengadu kepada ibunya tentang makian sang ayah. Geram sebab Toba sudah melanggar janji, sang ibu segera berpesan kepada Samosir, “ Nak, cepatlah kau mencari bukit paling tinggi di daerah ini. Setelahnya, jangan lupa kau memanjat pohon paling tinggi di bukit tersebut. Akan ada bala besar nan melanda daerah ini ”.

Samosir nan begitu patuh pada ibunya, segera melaksanakan amanat ini. Ia berlari mencari bukit, sementara sang ibu menuju sungai tempatnya dipancing Toba dahulu.

Tiba di tepi sungai, terdengar suara guruh menggelegar. Perempuan itu segera menjelma menjadi ikan dan terjun ke sungai. Alam tidak lagi bersahabat bagi manusia. Hujan deras seperti dicurahkan dari langit tanpa henti. Akibatnya sungai meluap hebat. Banjir bandang nan tidak pernah diduga sebelumnya, menerpa seluruh daerah.

Toba nan melihat air menerjang dirinya, tidak kuasa menghindar. Ia sempat mengingat janji-jani nan diucapkannya kepada sang istri nan gagal terpenuhi. Namun, semua sudah terlambat.

Toba akhirnya tewas terseret air bah. Sementara itu, sang anak Samosir nan mengikuti perintah ibunya, selamat. Ia sukses bertahan hayati berkat terus bertahan di puncak pohon di bukit tertinggi. Kelak, genangan air tersebut tak mereda dan membentuk danau. Danau inilah nan disebut sebagai Danau Toba. Sementara itu, pulau loka Samosir bertahan hidup, disebut Pulau Samosir. Inilah akhir legenda Danau Toba.

Pesan Moral Legenda Danau Toba

Banyak pesan moral nan dapat kita dapatkan dari legenda Danau Toba. Beberapa di antaranya ialah sebagai berikut:
1. Tidak Meremehkan Hal Kecil

Berdasarkan cerita legenda Danau Toba, hendaklah seseorang tak meremehkan hal nan seakan terlihat mudah. Kesalahan Toba dalam legenda Danau Toba ialah menggampangkan tantangan perempuan jelmaan ikan. Ia mengira, hanya sebab begitu jatuh cinta pada sang perempuan, Toba tidak akan kelepasan bicara tentang asal-usul perempuan tersebut. Nyatanya, Toba keliru. Ia mungkin dapat bertahan di depan istrinya nan disukainya.

Namun, kala menghadapi Samosir nan manja dan agak bandel, Toba gagal. Kadang-kadang sesuatu nan terlihat mudah, ternyata jauh lebih sulit. Sebaliknya, sesuatu nan terkesan sulit, nyatanya dapat dilalui lebih gampang daripada nan dibayangkan.
2. Janji ialah Segalanya

Toba di legenda Danau Toba mungkin khilaf sebab marah kepada Samosir nan memakan jatah makanannya. Namun, janji tetaplah janji. Seseorang harus menepatinya dalam kondisi apa pun. Dari legenda Danau Toba pun kita juga harus dapat belajar menepati janji tak hanya buat orang lain, tetapi juga buat orang-orang terdekat kita.
3. Patuh Kepada Orang Tua

Samosir dalam legenda Danau Toba selamat dari banjir bandang sebab mendengarkan detail pesan sang ibu. Perintah ini sempat terlihat sangat janggal. Daerah nan mereka tinggali tak pernah mengalami banjir bandang. Jika Samosir hanya mengandalkan logika atau pengalaman hidupnya, ia akan tertelan banjir seperti Toba. Namun ternyata tidak. Sang ibu sudah memprediksikan, ketika Toba melanggar janji, akan ada sesuatu nan menuntut pembalasan atas pelanggaran janji tersebut. Orang tua, atau dalam hal ini orang bijaksana, lebih kenyang pengalaman. Mereka lebih mengetahui apa nan terjadi.

broker mfxлобановский классшкола тениса