5 Istana Kepresidenan Indonesia Selain Istana Negara | 5berita.com
5-istana-kepresidenan-indonesia-selain-istana-presiden_istana-tampak-siring

5 Istana Kepresidenan Indonesia Selain Istana Negara

Indonesia tercatat memiliki enam istana kepresidenan, namun yang paling sering digunakan tentu saja Istana Negara yang berada di pusat kota jakarta dan selain itu masih terdapat 5 Istana kepresidenan lainnya, berikut adalah 5 Istana Kepresidenan Indonesia Selain Istana Negara :

1. Istana Merdeka
5-istana-kepresidenan-indonesia-selain-istana-presiden_merdeka2
Istana Merdeka masih berada satu komples dengan Istana Negara. Istana dengan luas 2.400 meter persegi ini dibangun pada masa pemerintahan Gubernur Jendral J.W. Van Lansberge pada tahun 1873, awalnya istana ini bernama Istana Koningspelein, namun Istana ini akhirnya kerap disebut sebagai Istana Gambir karena banyak pohon Gambur yang tumbuh disekitar lapangan Istana tersebut.

Istana Merdeka sempat menjadi saksi sejarah penandatanganan naskah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat oleh pemerintahan belanda 27 Desember 1949. Waktu itu RI diwakili oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX sedangkan belanda diwakili oleh A.H.J. Lonvink dan Istana ini juga pernah di diami oleh presiden Soekarno, Abdurrahman Wahid, Susilo Bambang Yudohyono, dan kini ditempati juga oleh Presiden Joko Widodo.

2. Istana Bogor
5-istana-kepresidenan-indonesia-selain-istana-presiden_istana-bogor
Istana Bogor memiliki keunikan tersendiri, karena aspek historinya, kebudayaan, serta faunanya yang menjadi ciri khas dari Istana Bogor. Fauna yang menjadi ciri khas Istana tersebut adalah rusa, namun rusa yang ada di Istana ini bukanlah sembarang rusa, karena rusa di Istana Bogor didatangkan langsung dari Nepal.

Istana Bogor dahulunya bernama Buitenzorg atau Sans Souci yang berarti “Tanpa Kekhawatiran” yang dibangun pada agustus 1744, awalnya Istana ini berbentuk tingkat tiga, namun akibat gempa bumi pada 10 Oktober 1834 yang terjadi akibat letusan Gunung Salak, akhirnya bangunan tersebut rusak parah dan dibangun kembali pada tahun 1850 namun bentuknya sudah tidak bertingkat lagi karena takut terjadi gempa yang serupa kembali. Bangunan tersebut baru resmi menjadi Istana Kepresidenan Pada tahun 1950 setelah masa kemerdekaan RI dan mulai dipakai oleh pemerintah Indonesia.

3. Istana Cipanas
5-istana-kepresidenan-indonesia-selain-istana-presiden_istana-cipanas
Hampir serupa dengan Istana Bogor, Istana Cipanas juga menggambarkan keasrian, dimana dari luas kompleks istana yang kurang lebih 26 hektar, yang dijadikan bangunan hanyalah 7.760m2, selebihnya dipenuhi dengan tanaman hias, kebun sayur, dan tanaman lainnya yang ditata seperti hutan kecil.

Istana Cipanas berada di kaki Gunung Gede Jawa Barat, dekat desa Cipanas, oleh sebab itu jugalah namanya Istana Cipanas. Awalnya bangunan ini adalah milik seorang belanda yang dibangun pada tahun 1740, Namun pada masa Gubernur Jendral Gustaff Willem Baron Van Imhoff, bangunan ini dijadikan tempat peristirahatan bagi Gubernur Jendral Hindia Belanda.

Beberapa bangunan yang terdapat di dalam kompleks ini antara lain Paviliun Yudhistira, Paviliun Bima dan Paviliun Arjuna yang dibangun secara bertahap pada 1916. Penamaan ini dilakukan setelah Indonesia Merdeka, oleh Presiden Sukarno. Di bagian belakang agak ke utara terdapat “Gedung Bentol”, yang dibangun pada 1954 sedangkan dua bangunan terbaru yang dibangun pada 1983 adalah Paviliun Nakula dan Paviliun Sadewa.

Kini Gedung ini ditetapkan sebagai Istana Kepresidenan dan digunakan sebagai tempat peristirahatan bagi Presiden atau Wakil Presiden beserta keluarga setelah kemerdekaan. Sebuah peristiwa penting yang pernah terjadi di istana ini setelah kemerdekaan adalah berlangsungnya sidang kabinet yang dipimpin oleh Presiden Soekarno pada 13 Desember 1965, yang menetapkan perubahan nilai uang dari Rp 1.000,- menjadi Rp 1,-. Sedangkan pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, gedung ini hanya digunakan sebagai tempat persinggahan pembesar-pembesar Jepang dalam perjalanan mereka dari Jakarta ke Bandung ataupun sebaliknya.

4. Istana Yogyakarta
5-istana-kepresidenan-indonesia-selain-istana-presiden_istana-yogyakarta
Istana Yogyakarta atau yang lebih dikenal dengan nama Gedung Agung. Gedung ini terletak di pusat kota DIY Yogyakarta dengan lahan seluas 43.585m2. Gedung ini dibangun pada mei 1824, Residen Yogyakarta ke -18 saat itu menghendaki adanya istana yang berwibawa bagi residen – residen belanda, bangunan ini di arsiteki oleh a. Payen.

Namun karena adanya perang Diponegoro akhirnya pembangunan gedung tersebut tertunda, dan baru dilanjutkan pembangunannya setelah perang tersebut berakhir dan akhirnya gedung tersebut selesai dibangun pada tahun 1832. Namun sayang pada tanggal 10 JUni 1867 gedung ini ambruk karena gempa bumi. Bangunan barupun didirikan dan selesai pada tahuun 1869 dan bangunan tersebutlah yang kini dikenal sebagai Istana Kepresidenan Yogyakarta.

5. Istana Tampaksiring
5-istana-kepresidenan-indonesia-selain-istana-presiden_istana-tampak-siring
Istana Tampak Siring yang terletak di Kabupaten Gianyar, Propinsi Bali, merupakan satu-satunya Istana Kepresidenan yang dibangun setelah Indonesia Merdeka. Kelima istana lainnya merupakan bangunan yang telah berdiri sejak jaman kolonialisme Belanda, antara lain Istana Negara dan Istana Merdeka (Jakarta), Istana Bogor (Bogor), Istana Cipanas (Cipanas), serta Gedung Agung (Yogyakarta). Istana Tampak Siring biasanya digunakan oleh presiden untuk beristirahat, melakukan rapat kerja, serta melakukan perundingan luar negeri. Pada tanggal 27 April 2007, misalnya, Istana Tampak Siring menjadi saksi perjanjian ekstradisi antara Indonesia dan Singapura.

Nama Tampak Siring berasal dari dua buah kata dalam bahasa Bali, yaitutampak dan siring yang berarti: “telapak” dan “miring”. Penamaan tersebut berkaitan erat dengan legenda masyarakat setempat tentang Raja Mayadenawa. Raja ini dikenal pandai dan sakti mandraguna. Namun, karena kelancangannya mengangkat diri sebagai dewa yang harus disembah oleh rakyatnya, maka Betara Indra mengutus bala tentara untuk menyerang Raja Mayadenawa. Serangan ini membuat Mayadenawa melarikan diri ke dalam hutan. Untuk menyamarkan jejaknya, Mayadenawa sengaja berjalan dengan cara memiringkan telapak kakinya.

Namun sayang, usaha Mayadenawa untuk mengelabui bala tentara Betara Indra gagal, jejaknya akhirnya diketahui. Dengan sisa-sisa kesaktiannya, Raja Mayadenawa mencoba melawan dengan menciptakan mata air beracun yang dapat membunuh para pengejarnya. Untuk menanggulangi akibat buruk dari mata air beracun itu, Betara Indra menciptakan sumber mata air penawarnya, yaitu Tirta Empul (air suci). Wilayah pelarian Raja Mayadenawa itulah yang kini dikenal sebagai Tampak Siring.

Istana Tampak Siring dibangun oleh seorang arsitek bernama R.M. Soedarsono atas prakarsa Presiden Soekarno. Pembangunan istana kepresidenan ini terbagi ke dalam dua masa, yaitu tahun 1957 dan 1963. Pada tahun 1957, di kompleks ini dibangun Wisma Merdeka dan Wisma Yudhistira. Sementara pada tahun 1963, pembangunan tahap kedua merampungkan dua gedung utama lainnya, yaitu Wisma Negara dan Wisma Bima, serta satu Gedung Serba Guna (gedung konferensi).

Istana Tampak Siring dibangun di areal berbukit dengan ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut (DPL). Para pelancong yang mengunjungi tempat ini dapat menyaksikan riwayat dan fungsi gedung bersejarah yang pernah digunakan oleh para presiden Republik Indonesia.freight forward companyvantso.comкачественные кистипрограммы для защиты данных