5 Pahlawan Nasional Yang Jarang Diketahui | 5berita.com
5-pahlawan-indonesia-yang-jarang-diketahui_john-lie3

5 Pahlawan Nasional Yang Jarang Diketahui

Beratnya perjuangan bangsa ini dalam meraih kemerdekaannya, tak lepas dari beratnya perjuangan para pahlawan yang telah berjuang dengan sepenuh jiwa raganya untuk memerdekakan negeri ini, saking banyaknya tak semua para pahlawan tersebut kita kenal, dan berikut adalah 5 Pahlawan Nasional Yang Jarang Diketahui :

1. Tan Malaka
5-pahlawan-indonesia-yang-jarang-diketahui_tan-malaka2

Tidak banyak generasi muda sekarang atau bahkan orangtua dulu yang mengenal seorang Tan Malaka sebagai seorang revolusioner nasionalis meski ia adalah seorang pengagum marxisme – Leninisme. Walaupun ia seorang marxisme namun tidak disukai oleh orang-orang PKI (Partai Komunis Indonesia), Tan Malaka dikenal sebagai musuh partai. Sementara tokoh islam Hamka, menyebut Tan Malaka sebagai pemimpin islam dalam perjuangan nasional Indonesia. Karena banyak generasi muda yang tidak mengetahui bahwa Tan Malaka adalah seorang pemikir hebat di masanya, wawasan ilmu pengetahuannya pun luas. Ia menjabarkan berbagai ilmu filsafat dan agama yang telah membentuk kehidupan di dunia ini — dari teori evolusi Darwin, Islam, Kristen, Yunani, India, dan masih banyak yang lainnya.

 

5-pahlawan-indonesia-yang-jarang-diketahui_tan-malaka
Terlahir dengan nama Ibrahim Datuk Tan Malaka di Nagari Pandam Gadang, Suliki, Sumatera Barat, 2 Juni 1897. Menjadikan Tan Malaka kecil tumbuh dalam lingkungan adat Minangkabau yang kental akan nafas islami. Tan Malaka kecil rajin sembahyang, tidur di masjid, dan hapal Qur’an. “Saya lahir dalam keluarga Islam yang taat. Ibu-bapak saya keduanya taat dan orang (yang) takut kepada Allah dan jalankan sabda Nabi,” dalam buku Islam dalam “Tinjauan Madilog.”

Hidupnya penuh dengan petualangan yang diakibatkan oleh pemikirannya yang melebihi masanya saat itu. Saat berumur 16 tahun, 1913, setelah tamat Kweekschool Bukit Tinggi, atas bantuan gurunya dengan pinjaman biaya dari Engkufonds, meneruskan pelajarannya ke Rijks Kweekschool di Haarlem, Belanda. Tahun 1919 ia kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai guru disebuah perkebunan di Deli. Ketimpangan sosial yang dilihatnya di lingkungan perkebunan, antara kaum buruh dan tuan tanah menimbulkan semangat radikal pada diri Tan Malaka muda. Tahun 1921, ia pergi ke Semarang dan bertemu dengan Semaun dan mulai terjun ke kancah politik Saat kongres PKI 24-25 Desember 1921, Tan Malaka diundang dalam acara tersebut. Januari 1922 ia ditangkap dan dibuang oleh Belanda ke Kupang. Pada Maret 1922 Tan Malaka diusir dari Indonesia dan mengembara ke Berlin, Moskwa dan Belanda. Semenjak bergabung dengan Partai Komunis Indonesia hidup Tan Malaka banyak diwarnai petualangan yang menegangkan. Dari tahun ke tahun ia warnai kehidupannya dengan menggiatkan paham sosialis-komunis di berbagai wilayah Indonesia termasuk di luar negeri, pada 1925 di Filipina ia mengusulkan rekan komunisnya untuk mendirikan partai. Sikap dan tindakannya tersebut dibenci oleh Belanda dan sekutunya, sehingga ia pun banyak memiliki nama samaran dan pekerjaan di tiap wilayah yang disinggahinya.

 

5-pahlawan-indonesia-yang-jarang-diketahui_tan-malaka3
Namun demikian usaha dan perjuangan tidak harus selalu dihubungkan dengan komunisme meskipun ia sangat membenci penjajahan dan kapitalisme yang menghimpit kehidupan rakyat Indonesia pada umumnya. Perjuangan Tan Malaka tidaklah hanya sebatas pada usaha mencerdaskan rakyat Indonesia pada saat itu, tapi juga pada gerakan-gerakan dalam melawan ketidakadilan seperti yang dilakukan para buruh terhadap pemerintahan Hindia Belanda lewat VSTP dan aksi-aksi pemogokan, disertai selebaran-selebaran sebagai alat propaganda yang ditujukan kepada rakyat agar rakyat dapat melihat adanya ketidakadilan yang diterima oleh kaum buruh.

 

5-pahlawan-indonesia-yang-jarang-diketahui_tan-malaka4
Seperti dikatakan Tan Malaka pada pidatonya di depan para buruh “Semua gerakan buruh untuk mengeluarkan suatu pemogokan umum sebagai pernyataan simpati, apabila nanti menglami kegagalan maka pegawai yang akan diberhentikan akan didorongnya untuk berjuang dengan gigih dalam pergerakan revolusioner”. Pergulatan Tan Malaka dengan partai komunis di dunia sangatlah jelas. Tan Malaka dan sebagian kawan-kawannya memisahkan diri dan kemudian memutuskan hubungan dengan PKI, Sardjono-Alimin-Musso.

 

5-pahlawan-indonesia-yang-jarang-diketahui_tan-malaka5
Juni 1927 Tan Malaka memproklamasikan berdirinya Partai Republik Indonesia (PARI). Dua tahun sebelumnya Tan Malaka telah menulis “Menuju Republik Indonesia“. Itu ditunjukkan kepada para pejuang intelektual di Indonesia dan di negeri Belanda. Terbitnya buku itu pertama kali di Kowloon, Hong Kong, April 1925. Jauh sebelum Hatta menuliskan “Indonesia Vrije” (Indonesia Merdeka) di Denhagg, Belanda, 1928. Dan sebelum “Menuju Indonesia Merdeka”-nya yang ditulis Sukarno pada 1933. Bahkan bukunya “Naar de Republiek” dan “Massa Actie” (1926) yang ditulis dari tanah pelarian itu telah menginspirasi tokoh-tokoh pergerakan di Indonesia.

 

5-pahlawan-indonesia-yang-jarang-diketahui_tan-malaka6
Tan Malaka adalah Bapak Republik Indonesia, seorang aktivis pejuang kemerdekaan Indonesia, seorang pemimpin sosialis, dan politisi yang mendirikan Partai Murba (Musyawarah Rakyat Banyak). Pejuang yang militan, radikal, dan revolusioner ini banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang berbobot dan berperan besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dengan perjuangan yang gigih maka ia dikenal sebagai tokoh revolusioner yang legendaris, namun hidupnya bahkan berakhir tragis, ditembak mati di tanah air dan republik yang ia cita-citakan memiliki kemerdekaan sendiri. Meskipun kabar kematiannya simpang siur seorang sejarawan Belanda Harry A Poeze Harry, menyimpulkan bahwa Tan Malaka ditembak mati pada 21 Februari 1949 atas perintah Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya.

 

2. John Lie
5-pahlawan-indonesia-yang-jarang-diketahui_kri-bung-tomo

Tiga buah kapal perang baru kelas light frigate buatan Inggris yang dibeli Indonesia diberi nama KRI Bung Tomo, KRI Usman Harun dan KRI John Lie.

Kita semua tentu kenal dengan Bung Tomo dan seruan-seruan kemerdekaannya yang membangkitkan
semangat pejuang untuk melawan Belanda di masa Revolusi Nasional Indonesia, sementara nama Usman Harun belakangan ini ter-blow up karena kontroversi dengan Singapura. Harun Thohir dan Usman Janatin adalah dua anggota KKO (Korps Komando Operasi; kini Korps Marinir) Indonesia yang tertangkap di Singapura pada saat Konfrontasi Indonesia-Malaysia. Keduanya dihukum mati oleh pemerintah Singapura atas pengeboman di wilayah pusat kota Singapura pada tahun 1965. Lalu siapakah John Lie?

 

5-pahlawan-indonesia-yang-jarang-diketahui_john-lie
Barangkali, nama John Lie juga jarang terdengar untuk penduduk Indonesia keturunan Tionghua. John Lie diangkat secara anumerta sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 10 November 2009 yang lalu. Ia adalah Pahlawan Nasional Indonesia kelima dari AL Indonesia dan yang pertama dari etnis Tionghua.

 

5-pahlawan-indonesia-yang-jarang-diketahui_john-lie3
John Lie lahir di Manado, Sulawesi pada 11 Maret 1911. Kendati terlahir di keluarga mapan, John Lie memilih untuk merantau ke Batavia pada saat ia berusia 17 tahun. Di sana, ia memulai karirnya sebagai navigator kapal niaga Belanda. Ia kemudian bertugas di Koramshar, Persia (sekarang Iran). Di sana ia mendapatkan pendidikan militer. Setelah Perang Dunia II usai dan proklamasi kemerdekaan Indonesia, John Lie mendaftarkan diri di angkatan laut nasional. Ia berjasa dalam membersihkan perairan Cilacap dari ranjau laut yang dipasang oleh Jepang dulu.

 

5-pahlawan-indonesia-yang-jarang-diketahui_john-lie2
Revolusi Nasional Indonesia meletus saat kembalinya Belanda ke Indonesia sambil membonceng sekutu untuk mengembalikan status negara muda ini menjadi koloninya kembali. John Lie, dengan pangkat Mayor ditugaskan untuk mengantarkan komoditas-komoditas lokal Indonesia ke Singapura untuk dijual demi upaya perang melawan Belanda. Dengan kapal kecil bernama “The Outlaw”, John Lie dan rekan-rekannya harus melewati blokade dari kapal-kapal Belanda yang memiliki persenjataan lengkap. Upayanya ini tidak jarang dilakukan pada tengah malam, menyebabkan kapalnya dijuluki “The Black Speed Boat” oleh Radio Inggris, BBC. Dengan “The Outlaw”, John Lie setidaknya melakukan lima belas kali mission impossible ini dengan sukses.

Setelah Belanda pergi dari Indonesia, John Lie mendapatkan tugas baru di Pos Hubungan Luar Negeri di Bangkok, memimpin KRI Rajawali dan Gajah Mada. Ia juga turut serta menumpas gerakan- gerakan separatis seperti DI/TII, Permesta, RMS. Pada tahun 1967, John Lie pun memilih untuk pensiun. Pangkat terakhirnya adalah Laksamana Muda. Ia kembali ke pangkuan Yang Maha Kuasa pada tanggal 27 Agustus 1988. Semoga sepak terjang John Lie dalam membela kedaulatan bangsa bisa menjadi suri tauladan kita untuk menjaga kebhinekaan Indonesia.

 

3. Kiai Haji Ahmad Rifa’i

Kiai Haji Ahmad Rifa’i (lahir di Tempurun, Kendal, Jawa Tengah pada tahun 1786; meninggal di Manado, Sulawesi Utara pada tahun 1859) adalah pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah dan juga seorang ulama, penulis buku semangat perjuangan kemerdekaan.

Sejak kecil ia sudah dididik oleh ayahnya, KH Muhammad Marhum untuk mendalami agama. Sejak remaja ia sering melakukan dakwah ke berbagai tempat di sekitar Kendal. Pada tahun 1826, ia menunaikan ibadah haji kemudian memperdalam ilmu agama di Mekkah dan Madinah selama 8 tahun. Setelah itu ia juga menimba ilmu di Mesir.

Salah seorang yang tergolong gigih melawan penjajahan belanda namun perlawanannya itu dilakukan melalui proses pembinaan kepada masyarakat desa, yaitu dengan menanamkan keyakinan keagamaan kepada masyarakat melalui pengajian yang dibinanya. Orang ini bernama KH Ahmad Raifai. Mungkin sampai saat ini belum banyak orang yang tahu siapa Ahmad Rifa’i. Meski kini cukup banyak disertasi yang menulis tentang peran Ahmad Rifa’i dalam pergolakan perang melawan Belanda, namun tampaknya belum banyak yang mengenal tokoh perjuangan itu. Ada bahasan dalam disertasi tentang tokoh itu dan perhatian serius sarjana terhadap perjuangan Ahmad Rifa’i baru mulai ramai pada 1990-an.
Pada tahun 2004 beliau diberi gelar sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono . dengan Kepres Nomor: 089/TK/2004. ia dikenal sebagai sosok pemimpin rakyat yang tegas, ulet dan teguh dalam pendirian. Untuk melihat lebih dalam tentang sosok beliau akan dapat kita lihat pada beberapa hal sebagia berikut:

Sejarah kehidupannya.
5-pahlawan-indonesia-yang-jarang-diketahui_kh-ahmad-rifa'i
Kiai Rifa’i lahir di Tempuran, Kendal, Jawa Tengah, Kamis 9 Muharram 1.200 H / 13 November 1785 (versi lain 1786). Ayahnya bernama Muhammad Marhum bin Abi Sujak Wijaya alias Raden Sukocito, seorang penghulu. Sedang ibunya bernama Siti Rohmah. Ia adalah anak bungsu dari delapan bersaudara. Ketika baru berusia tujuh tahun, ia sudah Yatim Piatu, dan selanjutnya tinggal bersama kakak kandungnya, Nyai Rajiyah binti Muhammad Marhum dan Kakak Iparnya KH. Asy’ari, seorang ulama dan pendiri pesatren Kaliwungu, Kendal. Sejak muda ia sudah terkenal warak, lebih mementingkan ibadah, dan suka menimba ilmu. Itulah sebabnya ia menghabiskan masa kecilnya di sejumlah pesantren, setelah sebelumnya belajar agama kepada kakak kandungnya. Ketika usianya baru delapan tahun, ia sudah tekun beribadah. Hari-harinya disibukkan dengan salat berjemaah, berdzikir dan belajar. Tidak hanya itu, ia juga sangat peka terhadap situasi sosial kemasyarakatan yang kala itu sarat dengan aksi-aksi kedzaliman dari kolonialis Belanda.

KH Asy’ari, menggemblengnya dengan pendidikan agama yang keras dan selanjutnya memberangkatkan Ahmad Rifa’i ke Mekkah untuk memperdalam ilmu-ilmu agama Islam. Sepulang dari Mekkah, Ahmad Rifa’i mengajar di pesantren pamannya dan berdakwah keliling menyebarkan agama Islam. Ahmad Rifa’i juga aktif menulis buku dengan huruf Arab pegon agar mudah dibaca masyarakat desa.

Pada 1255 H ia menunaikan ibadah haji dan bermukim di Makkah dan Madinah untuk mendalami ilmu agama selama delapan tahun. Di antara guru-gurunya selama di Tanah Suci adalah Syeh Al Barowi, Syeh Ibrohim Al Bajuri, Syeh Muhammad bin Abdul Aziz Al Jaisi, Syeh Abdurrahman, Syeh Abu Ubaidah, dan Syeh Usman. Pada 1252 H Kiai Rifa’i kembali ke Indonesia. Pada saat itu beliau berusia 51 tahun dan langsung menuju ke Kaliwungu membantu kakak iparnya menjadi ustad di pondok pesantren. Sebagai ustad yang baru datang dari Tanah Suci, KH Ahmad Rifa’i mendapat perhatian dan simpati dari para santri. Selain mengajarkan ilmu-ilmu agama, beliau juga menyampaikan pentingnya semangat nasionalisme dan pentingnya sikap anti penjajah. Sikap dan semangat yang diajarkan Kiai Rifa’i itu benar-benar meresap di hati masyarakat.

Karena ajarannya mengancam eksistensi Belanda, akhirnya Kiai Rifa’i diasingkan ke Ambon. Setelah itu, beliau dipindahkan ke tahanan Kampung Jawa di Tondano sampai wafat dan dimakamkan di sana. Setelah bertahun-tahun beliau diusulkan untuk diberikan anugerah pahlawan nasional, akhirnya pada 2004 bertepatan dengan Hari Pahlawan, pemerintah menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada KH Ahmad Rifa’i di Istana Negara Jakarta,” dengan Kepres Nomor: 089/TK/2004.

Sartono adalah sejarawan yang mendorong ilmuwan Indonesia untuk memperhatikan tokoh asal Desa Kalisalak, Batang, itu. Sartono pula yang pada seminar tentang “KH Ahmad Rifa’i dan Santri Tarjumah” di Yogyakarta, akhir 1980-an bersama Dr. Kuntowijoyo (almarhum) mengusulkan kepada pemerintah agar tokoh pergerakan dari Batang itu diberi gelar pahlawan nasional. Sejak awal 1990-an, melalui berbagai diskusi dan seminar, Sartono sering menjelaskan peran Ahmad Rifa’I dalam menggelorakan semangat anti-penjajahan di abad ke-19 melalui berbagai ceramah dan tulisan-tulisannya, sehingga kesadaran masyarakat untuk merdeka-tumbuh dan berkembang. Tidak seperti Pangeran Diponegoro yang bcrjuang melawan Belanda karena mempertahankan tanah warisan leluhur yang akan diserobot kompeni, Ahmad Rifa’i benar-benar menggelorakan perang melawan penjajah karena orang Belanda telah melakukan perbuataan-perbuatan yang menodai moral dan agama Islam.

Kitab-kitab beliau ini disebut kitab tarajumah atau terjemahan. Jumlah kitab Tarjumah itu sebanyak 62 judul, dengan jumlah halaman berbeda-beda, tapi umumnya di atas 1.200 halaman. Dengan jumlah buku dan halaman sebanyak itu, bisa kita bayangkan berapa puluh ribu syair yang telah ditulis Ahmad Rifa’i. Puluhan bahkan mungkin ratusan ribu syair keagamaan yang telah ditulis Ahmad Rifa’I untuk mendidik moral, akhlak, dan iman masyarakat desa di Jawa Tengah. Itulah sebabnya, Sartono menyatakan bahwa Ahmad Rifa’i adalah ulama paling produktif menulis buku pada abad ke-19.

Pendapat, pandangan dan prinsipnya
5-pahlawan-indonesia-yang-jarang-diketahui_kh-ahmad-rifa'i2
Dalam mengajar agama melalui kitab-kitab Tarjumah, Ahmad Rifa’i punya metodologi sendiri. Ada empat prinsip pengajaran kitab Tarjumah yang dilakukan Ahmad Rifa’I sebagai sebuah pandangan, yaitu : Pertama. Seorang santri harus belajar membaca kitab Tarjumah terbatas pada tulisan jawa. Tahap ini disebut ngajirengan. Kedua. Seorang santri harus mengaji dalil-dalil Al-Qur’an, hadis, dan qoulul ulama yang terdapat pada kitab Tarjumah. Ketiga. Seorang santri harus mengaji dalil dan makna kitab-kitab Tarjumah. Dan keempat, seorang santri harus memahami maksud dan kandungan dalam kitab-kitab Tarjumah itu.

Dalam serangkaian tulisannya, kiai Rifa’i menyebut Belanda sebagai kafir; dan siapapun yang berkolaborasi dengan Belanda, hukmnya juga Kafir. Pandangan seperti itu, akhirnya menjadi fatwa yang tersebar luas di kalangan masyarakat Kalisalak dan sekitarnya. Dan tentu saja fatwa ini membuat Belanda sangat marah. Tak ayal, jika lantas Belanda mengejeknya dengan julukan “Setan Kalisalak”. Kala itu bahkan sejumlah ulama yang pro Belanda sempat memojokkannya sebagi “Kiai Sesat”.

Sementara giat berdakwah, dengan jelas ia menyaksikan tatanan moral masyarakat kala itu yang rusak akibat ulah penjajah, yang dinilainya tidak mengindahkan ajaran agama. Tanpa tedeng aling-aling, ia sering mengkritik pemerintah Belanda dalam khotbah-khotbah Jumatnya, dan berkat kepiawaiannya berpidato, ia cepat dikenal masyarakat luas. Menurut Ahmad Rifa’i, Belanda telah merampas tanah rakyat, suka minum minuman keras, dan tidak berperikemanusiaan. Mereka adalah orang kafir yang harus diusir dari tanah Jawa.

Ajaran-ajaran yang diberikan oleh Kiai Rifa’i lebih menitikberatkan pada tiga hal: pertama, pemerintah kolonial Belanda adalah kafir, karena menindas rakyat. Kedua, kaum birokrat tradisional merupakan antek Belanda, dan karena itu juga Kafir. Ketiga, praktek beragama tidak boleh bercampur dengan kepercayaan nenek moyang, yang dinilainya sesat dan musyrik. Karena ceramah-ceramah dan tulisan-tulisannya yang anti-kolonial itulah, maka ajaran-ajarannya dianggap sangat membahayakan Belanda. Maka pada 15 Mei 1859, ia ditangkap lalu dibuang ke Ambon, Sepuluh tahun kemudian, 11 Juni 1869, ia meninggal dunia dan di makamkan di Ambon. Dalam usia 92 tahun.

Dalam salah satu syairnya, Ahmad Rifa’i mengkritik orang yang bangga karena bisa menghilang atau berjalan di atas air. Yang bisa menghilang itu setan dan yang bisa berjalan di atas air itu bebek. “Manusia lebih mulia dari semua itu,”tulis Ahmad Rifa’i dalam bukunya. Pandangan agama Ahmad Rifa’i mungkin sama dengan pandangan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, yang muncul harnpir seabad setelah Ahmad Rifa’i wafat.

Dalam hal pelurusan arah kiblat, misalnya, Ahmad Rifa’i melakukannya jauh sebelum Ahmad Dahlan melakukannya. Penelurusan arah kiblat yang berpedoman pada prinsip-prinsip ilmu falak (astronomi) itu, misalnya, terlihat di masjid tua peninggalan Ahmad Rifa’i di Kalisalak.

Pergerakannya.
Dalam melakukan pergerakannya pemuda Rifa’i tampil menentang penjajah dengan Gerakan Tarajumah. Gerakan perlawanan ini lebih menekankan pada aspek keagamaan dengan budaya masyarakat lokal secara menonjol. Ia membuka kesadaran masyarakat untuk menjadikan Islam sebagai roh kehidupan dan perjuangan. Kata Tarajumah, dialek Sunda untuk kata Tarjamah dari bahasa Arab, diambil dari kitab agama karangannya yang ia susun di sela-sela mengajar. Karena sikapnya yang radikal, ia mendapat kecaman, bahkan ancaman keras dari pemerintah Kolonial Belanda, birokrasi, maupun ulama yang bersebrangan dengannya. Akhirnya larangan berdakwah pun dikeluarkan, tapi ia tetap jalan terus, bahkan semakin gencar. Untuk menjerat pimpinan rakyat ini, Belanda menyuruh seorang ulama, Haji Pinang, untuk mengajaknya debat terbuka. Dalam perdebatan itu secara sepihak Kiai Rifai dianggap bersalah, dengan alasan inilah maka dia layak dijebloskan ke dalam penjara.

Usaha yang diancamkan oleh colonial Belanda tidak menjadikan ia patah arang bahkan sebaliknya ia pantang untuk mundur. Oleh karena itu sekeluarnya dari penjara pada tahun 1835, ketika ia berusia 30 tahun, ia berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus menuntut ilmu kepada sejumlah ulama besar di tanah suci. Ia bermukim di sana selama delapan tahun dan berguru kapada sejumlah ulama, antara lain, Syekh Utsman dan Syekh Faqih Muhammad ibnu Abdul Aziz Al-Jaysyi. Ia juga sangat akrab dengan beberapa santri asal Indonesia yang terkenal menjadi ulama besar, seperti KH. Kholil Bangkalan dan Syekh Nawawi Banten. Bahkan belakangan, tiga serangkai itu ( KH. Ahmad Rifai Kendal, KH. Kholil Bangkalan dan Syekh Nawawi Banten) berikrar jika masing-masing nanti pulang ke tanah air, harus menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar, menerjemahkan kitab-kitab agama ke dalam bahasa Jawa (maksudnya Nusantara), bertindak adil, mendirikan lembaga keagamaan, dan mengusir penjajah Belanda. Taklama kemudian beliau menimba ilmu ke Mesir, berguru kepada Syekh Al-Barowi dan Syekh Ibrahim Al-Bajuri, pengarang kitab Fathul Qarib yang terkenal itu.

Pada tahun 1632, ketika usianya sudah 51 tahun, Kiai Rifa’i kembali ke Indonesia dan langsung mengajar di Almamaternya, Pondok Pesantren Kaliwungu, Kendal, ketika itulah selain mengajar ilmu-ilmu agama, ia juga menyampaikan pentingnya semangat nasionalisme anti penjajah. Ia berhasil menanamkan roh Islam, mengembalikan syariat Islam secara benar dan utuh, terutama untuk membangkitkan semangat nasionalisme. Selama pergerakan yang dilakukan oleh KH Rifai ini ada saja orang yang berkhianat dan melaporkan kegiatannya kepada pemerintah Kolonial Belanda, dengan tuduhan menghasut rakyat untuk membuat kerusuhan. Ia lalu ditangkap lagi dan di introgasi. Akhirnya ia diajukan ke pengadilan dan dijatuhi hukuman pengasingan. Pada tahun 1838, ia dibuang ke kalisalak, sebuah desa terpencil di Kecamatan Limpung, Batang, namun mujahid yang tak pernah patah arang ini pada tahun 1841 justru membangun sebuah Pesantren Al-Qur’an di kawasan Hutan Belantara itu.

Proses terbentuknya pesantren Al Qur’an di kawasan hutan tersebut adalah diawali dengan mengumpulkan anak-anak kampung untuk diajar ngaji dan belajar fikih. Kadang ia mengajar dengan menggunakan nadham (puisi) dalam bahasa Jawa. Dan ternyata anak-anak tertarik dan kemaudian pesantren yang baru ini bisa berkembang pesat, lama kelamaan santrinya berdatangan dari berbagai penjuru pulau jawa. Tapi gara-gara aktivitasnya itulah pemerintah Belanda lagi-lagi gerah. Apalagi karena Kiai Rifai tetap saja menggembleng para patriot desa dengan semangat anti penjajah yang kafir. Di dalam pondok terpencil dan jauh dari jangkauan kontrol Pemerintah Hindia Belanda itu Kiai Rifa’i yang semakin termashur lebih berkonsentrasi mengkader santri-santrinya. ”Ternyata kehadiran Kiai Rifai juga dikagumi oleh seorang janda demang yang kaya bernama Sujinah. Keduanya lalu melangsungkan pernikahan. Perkimpoian itu semakin memperkuat kedudukannya di Desa Kalisalak dan di tempat yang terpencil itulah dia mendidik kader-kader militan untuk menjaga dan meneruskan ajarannya,” tutur Syadhirin.

Demikian sepak terjan perjuangan dan pergerakan KH Ahmad Rifai yang memang sebenarnaya ia adalah ulama sekaligus mujahid, pejuang, yang dicintai oleh rakyat dan sangat dekat dengan rakyat, terutama karena mampu mengajar agama dengan bahasa Jawa, campur Sunda, sebagai bahasa perantara. Ia menulis puluhan kitab Agama dalam bahasa Jawa dengan menggunakan huruf Pegon, huruf Arab berbahasa Jawa. Tak kurang dari 55 judul kitabnya, kini masih dibaca oleh para pengikutnya. Kiai Rifa’i menyebut kitab-kitab dalam bahasa Jawa itu sebagai Tarajumah, yang berarti Terjemahan.

 

4. Dewi Sartika
5-pahlawan-indonesia-yang-jarang-diketahui_dewi-sartika3
Dewi Sartika (lahir di Bandung, 4 Desember 1884 – meninggal di Tasikmalaya, 11 September 1947 pada umur 62 tahun) adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum perempuan, diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia tahun 1966.

Biografi
Dewi Sartika dilahirkan dari keluarga priyayi Sunda , Nyi Raden Rajapermas dan Raden Somanagara. Meski melanggar adat saat itu, orang tuanya bersikukuh menyekolahkan Dewi Sartika, ke sekolah Belanda pula. Sepeninggal ayahnya, Dewi Sartika dirawat oleh pamannya (kakak ibunya) yang berkedudukan sebagai patih di Cicalengka. Dari pamannya, beliau mendapatkan didikan mengenai kesundaan, sedangkan wawasan kebudayaan Barat diperolehnya dari berkat didikan seorang nyonya Asisten Residen bangsa Belanda.

Bakat pendidik
Sejak kecil, Dewi Sartika sudah menunjukkan bakat pendidik dan kegigihan untuk meraih kemajuan. Sambil bermain di belakang gedung kepatihan, beliau sering memperagakan praktik di sekolah, mengajari baca-tulis, dan bahasa Belanda, kepada anak-anak pembantu di kepatihan. Papan bilik kandang kereta, arang, dan pecahan genting dijadikannya alat bantu belajar.
Waktu itu Dewi Sartika baru berumur sekitar sepuluh tahun, ketika Cicalengka digemparkan oleh kemampuan baca-tulis dan beberapa patah kata dalam bahasa Belanda yang ditunjukkan oleh anak-anak pembantu kepatihan. Gempar, karena di waktu itu belum banyak anak-anak (apalagi anak rakyat jelata) memiliki kemampuan seperti itu, dan diajarkan oleh seorang anak perempuan.

Beranjak remaja
5-pahlawan-indonesia-yang-jarang-diketahui_dewi-sartika
Ketika sudah mulai remaja, Dewi Sartika kembali ke ibunya di Bandung. Jiwanya yang semakin dewasa semakin menggiringnya untuk mewujudkan cita-citanya. Hal ini didorong pula oleh pamannya, Bupati Martanagara, pamannya sendiri, yang memang memiliki keinginan yang sama. Tetapi, meski keinginan yang sama dimiliki oleh pamannya, tidak menjadikannya serta merta dapat mewujudkan cita-citanya. Adat yang mengekang kaum wanita pada waktu itu, membuat pamannya mengalami kesulitan dan khawatir. Namu karena kegigihan semangatnya yang tak pernah surut, akhirnya Dewi Sartika bisa meyakinkan pamannya dan diizinkan mendirikan sekolah untuk perempuan.

Menikah
Tahun 1906, Dewi Sartika menikah dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata, seseorang yang memiliki visi dan cita-cita yang sama, guru di Sekolah Karang Pamulang, yang pada waktu itu merupakan Sekolah Latihan Guru.

Mendirikan sekolah
5-pahlawan-indonesia-yang-jarang-diketahui_dewi-sartika2
Sejak 1902, Dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum perempuan. Di sebuah ruangan kecil, di belakang rumah ibunya di Bandung, Dewi Sartika mengajar di hadapan anggota keluarganya yang perempuan. Merenda, memasak, jahit-menjahit, membaca, menulis, dan sebagainya, menjadi materi pelajaran saat itu.

Usai berkonsultasi dengan Bupati R.A. Martenagara, pada 16 Januari 1904, Dewi Sartika membuka Sakola Istri (Sekolah Perempuan) pertama se-Hindia-Belanda. Tenaga pengajarnya tiga orang; Dewi Sartika dibantu dua saudara misannya, Ny. Poerwa dan Nyi. Oewid. Murid-murid angkatan pertamanya terdiri dari 20 orang, menggunakan ruangan pendopo kabupaten Bandung.
Setahun kemudian, 1905, sekolahnya menambah kelas, sehingga kemudian pindah ke Jalan Ciguriang, Kebon Cau. Lokasi baru ini dibeli Dewi Sartika dengan uang tabungan pribadinya, serta bantuan dana pribadi dari Bupati Bandung. Lulusan pertama keluar pada tahun 1909, membuktikan kepada bangsa kita bahwa perempuan memiliki kemampuan yang tak ada bedanya dengan laki-laki. Tahun 1910, menggunakan hartanya pribadi, sekolahnya diperbaiki lagi sehingga bisa lebih mememnuhi syarat kelengkapan sekolah formal.

Pada tahun-tahun berikutnya di beberapa wilayah Pasundan bermunculan beberapa Sakola Istri, terutama yang dikelola oleh perempuan-perempuan Sunda yang memiliki cita-cita yang sama dengan Dewi Sartika. Pada tahun 1912 sudah berdiri sembilan Sakola Istri di kota-kota kabupaten (setengah dari seluruh kota kabupaten se-Pasundan). Memasuki usia ke-sepuluh, tahun 1914, nama sekolahnya diganti menjadi Sakola Kautamaan Istri (Sekolah Keutamaan Perempuan).

Kota-kota kabupaten wilayah Pasundan yang belum memiliki Sakola Kautamaan Istri tinggal tiga/empat, semangat ini menyeberang ke Bukittinggi, di mana Sakola Kautamaan Istri didirikan oleh Encik Rama Saleh. Seluruh wilayah Pasundan lengkap memiliki Sakola Kautamaan Istri di tiap kota kabupatennya pada tahun 1920, ditambah beberapa yang berdiri di kota kewedanaan.

Bulan September 1929, Dewi Sartika mengadakan peringatan pendirian sekolahnya yang telah berumur 25 tahun, yang kemudian berganti nama menjadi “Sakola Raden Déwi”. Atas jasanya dalam bidang ini, Dewi Sartika dianugerahi bintang jasa oleh pemerintah Hindia-Belanda.

Meninggal
Dewi Sartika meninggal 11 September 1947 di Tasikmalaya, dan dimakamkan dengan suatu upacara pemakaman sederhana di pemakaman Cigagadon-Desa Rahayu Kecamatan Cineam. Tiga tahun kemudian dimakamkan kembali di kompleks Pemakaman Bupati Bandung di Jalan Karang Anyar, Bandung.

 

5. Muhammad Yamin
5-pahlawan-indonesia-yang-jarang-diketahui_muhhamad-yamin
Tokoh Revolusioner terakhir dari daftar ini berasal dari ranah Minangkabau, ia Lahir di Sawahlunto 23 Agustus 1903 dan meninggal di Jakarta tanggal 17 Oktober 1962. Ia adalah sarjana hukum, sastrawan, tokoh politik, dan penggali sejarah Indonesia. Yamin mendapatkan pendidikan dasarnya di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Palembang, kemudian melanjutkannya ke Algemeene Middelbare School (AMS) Yogyakarta. Di AMS Yogyakarta, ia mulai mempelajari sejarah purbakala dan berbagai bahasa seperti Yunani, Latin, dan Kaei. Namun setelah tamat, niat untuk melanjutkan pendidikan ke Leiden, Belanda harus diurungnya dikarenakan ayahnya meninggal dunia. Ia kemudian menjalani kuliah di Recht Hogeschool (RHS yang kelak menjadi Fakultas Hukum Universitas Indonesia), Jakarta dan berhasil memperoleh gelar Meester in de Rechten (Sarjana Hukum) pada tahun 1932.

Karena kehausannya pada beragam ilmu itu, Yamin jadi menguasai banyak bidang. Sedikit yang tahu, selain ahli hukum tata negara, anak mantri kopi ini juga seorang pujangga. Sajak-sajaknya terkumpul dalam Tanah Air (1922) dan Indonesia Tumpah Darahku (1928), juga menulis sejumlah naskah drama dari tahun 1932 sampai 1951. Yamin dikategorikan sebagai penyair angkatan pujangga baru. Tak cukup di situ, penyuka antropologi, penggali bahasa Sanskerta, Jawa, dan Melayu ini juga menguasai sejarah. Penelitian sejarahnya tentang Gajah Mada, Diponegoro, Tan Malaka sampai kepada Revolusi Amerika juga diterbitkan dalam bentuk buku.

5-pahlawan-indonesia-yang-jarang-diketahui_muhhamad-yamin2
Di era kemerdekaan, kegiatan politiknya pernah diliputi konflik. Pada awal tahun 1946 ia bergabung dengan PP (Persatuan Perjuangan) pimpinan Tan Malaka, sebuah organisasi yang menentang politik diplomasi Kabinet Sjahrir dengan pemerintah Belanda. Selain itu, juga menuntut pengakuan 100% Belanda atas kemerdekaan Indonesia.

Yamin pun dinyatakan terlibat dalam usaha merebut kekuasaan yang dikenal dengan nama ‘Peristiwa 3 Juli 1946′ dan dijatuhi hukuman penjara empat tahun –peristiwa penculikan Sjahrier. Pada 17 Agustus 1948 Presiden Soekarno memberikan grasi kepada para tahanan politik yang terlibat dalam peristiwa itu. Hanya selang setahun kemudian, ia dipercaya menjadi penasihat delegasi Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar (KMB).

5-pahlawan-indonesia-yang-jarang-diketahui_muhhamad-yamin3
Ia adalah salah satu perumus dasar negara selain Soekarno dan Soepomo. Bersama Bung Hatta, Yamin juga konseptor pasal-pasal yang memuat hak asasi manusia dalam UUD 1945 pada rapat-rapat Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). jabatan-jabatan yang pernah dipangku Yamin antara lain anggota DPR sejak tahun 1950, Menteri Kehakiman (1951-1952), Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan (1953–1955), Menteri Urusan Sosial dan Budaya (1959-1960), Ketua Dewan Perancang Nasional (1962), dan Ketua Dewan Pengawas IKBN Antara (1961–1962).

”Yamin-lah yang memberi nama Pancasila untuk menyebut dasar negara kita. Dalam pidatonya, Bung Karno menyebutkan ia menamai Pancasila atas usul seorang temannya yang ahli bahasa. Hanya Yamin yang ketika itu menguasai bahasa Sanskerta dan sastra,” kata Syafri Syam, dosen tata negara Universitas Andalas, yang sering mengikuti kuliah umum dengan Yamin, pada 1960-an, ketika masih jadi mahasiswa. (**)

 кто заходил на страницу вконтактемунтянреклама гугл цена