5 Patung Bersejarah di Jakarta | 5berita.com

5 Patung Bersejarah di Jakarta

Tahukah kalian ada banyak patung – patung di Jakarta? dan diantara banyak patung tersebut ternyata beberapa diantaranya memiliki sejarah mengapa patung tersebut dibuat, dan berikut kami rangkum 5 Patung Bersejarah di Jakarta:

1. Patung Pahlawan (Tugu Tani)

Patung Pahlawan (Tugu Tani) 5berita

Patung yang terbuat dari perunggu ini melambangkan seorang ibu yang melepas anaknya ke medan pertempuran. Patung ini terdiri dari lelaki bercaping yang memakai baju tentara dan di bawahnya ada ibunya yang sedang memberikan sesuatu untuk anaknya. Patung ini dibuat oleh seorang pematung dari Uni Soviet yang bernama Matvey Genrikhovich Manizer. Ia dibantu dengan anaknya yang bernama Ossip Manizer.

Proses pembuatan patung hingga menyerupai seorang petani dan wanita diperoleh dari perjalanan Manizer ketika mengunjungi Indonesia pada tahun 1960. Kala itu, dia mendengar cerita tentang kisah seorang ibu yang mendukung anaknya untuk berperang demi negaranya, dan mengingatkan anaknya untuk jangan pernah meninggalkan orang tuanya. Kembali ke Uni Soviet, Ia bersama rekannya membuat patung tersebut sebagai kenang-kenangan.

 

Ada dua versi yang melatarbelakangi pembuatan patung ini.  Yang pertama, patung tugu tani dibuat atas inspirasi ketika Soekarno berkunjung ke Uni Soviet tahun 1922.Saat itu di Negara Rusia terjadi pergolakan antara kaum yang pro sistem kekaisaran Rusia dengan kaum komunis.Hal ini mengingatkan dia dengan keadaan di Indonesia dia pun mencari pembuat patung untuk membuatkan monumen demi menghargai perjuangan para buruh tani dalam gerakan G 30 SPKI .

Sedangkan versi lain mengatakan asal-usul pembanguna tugu tani berhubungan dengan pengklaiman daerah Irian barat, bukan tentang gerakan kaum komunis di Indonesia.Dalam sebuah buku diceriatakan bahwa Soekarno menginginkan tugu tani dibuat untuk memperingati perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan Irian barat yang selama ini dikuasai oleh Belanda hingga 1963.

2. Patung Dirgantara / Patung Pancoran

Patung Dirgantara 5berita

Patung Dirgantara  adalah nama asli dari patung Pancoran. Posisinya tepat di depan kompleks perkantoran Wisma Aldiron yang dulunya merupakan Markas Besar TNI Angkatan Udara. Patung ini dirancang oleh Edhi Sunarso dengan bantuan Keluarga Arca Yogyakarta. Berat patung ini adalah sebelas ton dengan tinggi sebelas meter, dan kaki patung yang mencapai 27 meter.

Ide pertama pembuatan patung adalah berdasarkan permintaan Bung Karno. Ia ingin menampilkan keperkasaan bangsa Indonesia di bidang dirgantara/udara. Nah, pembuatan patung ini memakan biaya Rp12 juta. Saat itu Bung Karno sampai sempat menjual mobil pribadinya dengan harga Rp1 juta untuk patung ini. Wow!

Patung ini dirancang oleh Edhi Sunarso sekitar tahun 1964 – 1965 dengan bantuan dari Keluarga Arca Yogyakarta. Sedangkan proses pengecorannya dilaksanakan oleh Pengecoran Patung Perunggu Artistik Dekoratif Yogyakarta pimpinan I Gardono. Berat patung yang terbuat dari perunggu ini mencapai 11 Ton. Sementara tinggi patung itu sendiri adalah 11 Meter, dan kaki patung mencapai 27 Meter. Proses pembangunannya dilakukan oleh PN Hutama Karya dengan Ir. Sutami sebagai arsitek pelaksana.

Pengerjaannya sempat mengalami keterlambatan karena peristiwa Gerakan 30 September PKI pada tahun 1965.

Proses pemasangan Patung Dirgantara sering ditunggui oleh Bung Karno, sehingga kehadirannya selalu merepotkan aparat negara yang bertugas menjaga keamanan sang kepala negara. Alat pemasangannya sederhana saja yaitu dengan menggunakan Derek tarikan tangan. Patung yang berat keseluruhannya 11 ton tersebut terbagi dalam potongan-potongan yang masing-masing beratnya 1 ton.

Pemasangan patung Dirgantara akhirnya dapat selesai pada akhir tahun 1966. Patung Dirgantara ditempatkan di lokasi ini karena strategis, merupakan pintu gerbang kawasan Jakarta Selatan dari Lapangan Terbang Halim Perdanakusumah selain itu dekat dengan (dahulu) Markas Besar Angkatan Udara Republik Indonesia.

Ada kontroversi tentang arah partung ini menunjuk. Beberapa yang berkembang, arah acungan jari patung pancoran menunjuk ke tempat rahasia tempat Bung Karno menyimpan semua harta kekayaannya. Tapi ada juga yang yakini bahwa sebenarnya arah patung ini menghadap ke Pelabuhan Sunda Kelapa yang merupakan jantung peradaban bangsa Indonesia selama dijajah Belanda.

Tapi, menurut website resmi DKI Jakarta jakarta.go.id, tangan patung pancoran sebenarnya menunjuk ke arah utara, tepatnya Bandar Udara Internasional Kemayoran. Bandara International Kemayoran sendiri adalah bandar udara yang berfungsi melayani seluruh rute penerbangan domestik dan international pada masa itu, sebelum akhirnya dipindahkan ke Bandara International Soekarno Hatta, Cengkareng. Saat ini Bandara Kemayoran sudah tidak ada dan berubah menjadi jalan raya.

3.Monumen Selamat Datang

Monumen Selamat Datang 5berita

Bagi kalian yang suka ikutan car free day di jakarta pasti familiar dengan patung yang satu ini, karena letak patung ini berada di tengah Bundaran Hotel Indonesia, tempat dilakukannya car free day jakarta. Monumen ini berupa patung sepasang manusia yang sedang menggenggam bunga dan melambaikan tangan. Patung tersebut menghadap ke utara yang berarti mereka menyambut orang-orang yang datang dari arah Monumen Nasional (MoNas). Patung ini dibuat pada tahun 1962, pada saat Jakarta menjadi tuan rumah Asian Games ke 4 untuk menyambut tamu-tamu kenegaraan di Bunderan Hotel Indonesia.

Ide pembuatan patung ini berasal dari Bung Karno dan rancangan awalnya dikerjakan oleh Henk Ngantung, Wakil Gubernur DKI Jakarta saat itu. Tinggi patung ini dari kepala sampai kaki adalah 5 meter, sedangkan tinggi seluruhnya dari kaki hingga tangan melambai adalah 7 meter. Pelaksana pembuatan patung ini adalah tim pematung Keluarga Arca pimpinan Edhi Sunarso di Karangwuni. Pengerjaan Patung ini memakan waktu satu tahun, dan diresmikan oleh Soekarno pada tahun 1962

4. Patung Pemuda Membangun

Patung Pemuda Membangun 5berita

Pernah dengar nama patung ini? Ini adalah patung yang terletak di bunderan air mancur Senayan. Dibuat oleh tim pematung yang tergabung dalam Biro Insinyur Seniman Arsitektur (ISA) di bawah pimpinan Imam Supardi. Patung ini dinamakan Pemuda Membangun karena bertujuan untuk mendorong semangat membangun para pemuda atau orang yang berjiwa muda.

Diletakkan di bunderan air Senayan karena selain luas dan strategis, tempat ini merupakan titik pertemuan dari dan segenap penjuru kota Kebayoran Baru dan sekitarnya. Patung ini pun juga dekat dengan kompleks olahraga Senayan dan Gedung MPR. Keberadaan patung ini bertujuan untuk mendorong semangat membangun yang pada hakekatnya harus dilakukan oleh para pemuda atau orang-orang yang berjiwa muda. Oleh karena itu patung ini diberi nama “Patung Pemuda Membangun”

Patung ini dibuat dari beton bertulang dengan adukan semen dan bagian luarnya dilapisi dengan bahan teraso. Pekerjaan dimulai bulan Juli 1971 dan diresmikan bulan Maret 1972. Rencana semula peresmiannya akan dilakukan pada acara Peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1971, namun saat itu patung belum selesai dibangun sehingga peresmiannya pun tertunda beberapa bulan.

Seluruh pendanaan pembuatan patung disandang oleh perusahaan minyak yang saat ini bernama Pertamina. Ketika itu pimpinan tertingginya, Ibnu Sutowo, ikut memegang peranan.

5. Patung Arjuna Wijaya

Patung Arjuna Wijaya 5berita

Patung Arjuna Wijaya atau yang lebih dikenal dengan sebutan Patung Kuda. Patung ini adalah patung kereta dengan tokoh pewayangan di dalamnya. Terletak di sebelah kiri pintu masuk salah satu gerbang utama Monas. Ide membuat patung ini datang dari seniman patung terbaik Indonesia, Nyoman Nuarta.

Menurut Nyoman Nuarta, pembangunan patung Arjuna Wijaya dilatarbelakangi kunjungan kenegaraan Presiden Soeharto ke Turki di tahun 1987, dimana dia melihat banyak monumen yang menjelaskan tentang cerita-cerita masa lalu Turki di jalan-jalan protokolnya. Presiden Soeharto menyadari hal tersebut tidak dia jumpai di ruas jalan-jalan protokol di Jakarta, sehingga dia menggagas pembangunan sebuah monumen yang memuat filsafat Indonesia. Melalui Nyoman Nuarta akhirnya kisah Perang Baratayuda digunakan sebagai ide di balik wujud akhir patung tersebut.

“Arjuna Wijaya” sendiri berarti “kemenangan Arjuna”, yang menceritakan kemenangannya dalam membela kebenaran dan keberaniannya, simbol apresiasi terhadap sifat-sifat kesatrianya. Patung Arjuna Wijaya merupakan patung yang merupakan simbol bahwa hukum harus ditegakan tanpa pandang bulu. Hal ini dilatarbelakangi salah satu episode dalam cerita Bharatayuddha di mana Arjuna bertempur melawan Adipati Karna yang merupakan saudaranya sendiri. Menurut Nyoman Nuarta, dalam cerita Mahabharata, Arjuna pada awalnya ragu karena yang dilawannya adalah saudaranya sendiri, namun dia harus menentukan sikap demi kebaikan orang yang lebih banyak, dia harus mengalahkan Adipati Karna yang berdiri di pihak Kurawa.

Delapan kuda yang menarik kereta perang tersebut melambangkan delapan filsafat kepemimpinan sesuai alam semesta, yang disebut “Asta Brata” yaitu : Kisma (bumi), Surya (matahari), Agni (api), Kartika (bintang), Baruna (samudera), Samirana (angin), Tirta (hujan), dan Candra (bulan). Tampilan kuda-kuda Asta Brata ini telah menjadi ciri tersendiri bagi Patung Arjuna Wijaya, dimana sebagian patung kuda memperlihatkan bentuk bagian tubuh yang utuh, namun sebagian lagi berbagian tubuh transparan. Bentuk ini telah menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang ingin menghitung jumlah kuda Asta Brata. Menurut Nyoman Nuarta, jumlah patung kuda Asta Brata yang sesungguhnya adalah delapan, di mana yang transparan merupakan bayangan kuda-kuda Asta Brata tersebut.

Patung ini dibangun sebagai hadiah Gubernur DKI Jakarta kepada warga Jakarta, tepat sehari sebelum HUT Kemerdekaan RI ke-42. Di sebelah selatan patung ini, terdapat prasasti yang berbunyi: “Kuhantarkan kau, melanjutkan perjuangan, mengisi kemerdekaan dengan pembangunan yang tiada mengenal akhir”. Pesan ini datang dari Presiden Soeharto bagi pemimpin dan rakyat Indonesia untuk direnungkan dan diilhami.лазерное лечение зубовимплантация стоматологияfreevulkanclub.comпаркетная доска эста паркет