5 Anak Paling Berbakti Didunia | 5berita.com
5Berita.Com
Kamis, 08 Desember 2016
Kumpulan Berita Seru
Gao Qianbo 5berita.com

5 Anak Paling Berbakti Didunia

Banyak kisah-kisah di dunia yang sangat mengharukan atas sifat seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya.. Masih banyak dari kita yang tidak mengingat jasa orang tua kita, dimana pada saat kecil kita selalu dimanja dan dijaga oleh orang tua kita.. Apakah itu adil untuk mereka orang tua kita? Apakah anda sanggup melihat orang tua yang dari kecil menyayangi anda setulus hati tetapi pada saat anda besar malah anda lupa dengan mereka?

Berikut ini adalah 5 anak yang paling berbakti versi 5berita.com :

1.Ding Zhu Ji, Anak yang Berbakti Kepada Ibunya

Ding-Zhu-Ji 5berita.com

Ding-Zhu-Ji 5berita.com

Kurang lebih satu tahun yang lalu terdapat satu foto yang tersebar di internet dan sangat menyentuh hati siapapun yang melihatnya. Foto ini dengan cepat tersebar luas di internet dan menjadi bahan pembicaraan.

Foto tersebut memperlihatkan seorang pria paruh baya yang sedang menggendong seorang wanita tua. Layaknya seorang ibu yang menggendong anaknya yang masih kecil dengan kain gendongan. Tiga hari selepas foto tersebut tersebar, topik hangat yang jadi perbincangan adalah “siapakah dia?” banyak warga yang mencoba untuk mencari identitas sang anak yang menggendong ibunya tersebut.

Usut punya usut, ternyata Laki-laki tersebut bernama Ding Zhu Ji (62 tahun) dan perempuan tua yang digendongnya adalah ibunya yang berusia 82 tahun. Ding adalah seorang mantan petugas Biro Investigasi dari Departemen Kehakiman di Tainan.

Salah seorang kawannya mengatakan kepada Apple Daily bahwa ibu Ding menderita patah tulang pada kaki kirinya dan Ding telah melakukan serangkaian pengobatan kepada sang ibu. Dalam foto tersebut Ding terlihat sedang menggendong ibunya dirumah sakit Chi Mei Medical Center di Taiwan.

Ding memutuskan untuk menggendong sang ibu, agar dirinya dapat lebih cepat untuk tiba di rumah sakit dan sang ibu pun tidak akan merasa terlalu sakit ketika ia menggendongnya dibandingkan dengan menggunakan mobil atau kendaraan lainnya. “Kami tidak terkejut dan juga tidak heran atas foto tersebut, dia memang dikenal sebagai seorang anak yang sangat berbakti,” ucap salah seorang teman Ding.

Salah seorang kawan Ding bahkan juga menceritakan bahwa Ding telah menolak untuk dipromosikan yang mengharuskannya pindah ke wilayah lain dengan satu alasan bahwa ia tidak akan bisa mengurus ibunya.

Tidak menyangkaDing tidak pernah menyangka aksi spontan yang dilakukannya ini menjadi pusat perhatian orang-orang yang melihatnya. Selain foto, ternyata CCTV di rumah sakit yang didatangi Ding juga merekam saat-saat Ding menggendong sang ibu layaknya seorang bayi.

Ding sempat berkisah bahwa dirinya merasa sangat berhutang budi terhadap ibunya. Di saat ibunya sedang mengandung dirinya, memasuki usia ke 6 bulan, dia dan ibunya sempat akan dibuang ke laut lantaran tidak memiliki kartu identitas ketika naik perahu bersama prajurit Taiwan. Saat itu banyak orang yang memohon agar ibunya tidak dilemparkan ke laut, beruntung seorang pria menemukan kartu identitas mereka, sehingga pada akhirnya mereka berdua bisa selamat.

Mendengar kisah mengharukan tersebut dari mulut sang ibu, Ding pun merasa sangat berhutang budi pada ibunya yang telah melahirkan dan membesarkannya tersebut. Di antara saudaranya memang dirinyalah yang paling dekat dengan sang ibu. Bahkan hingga usianya memasuki 62 tahu, dirinya masih tetap merawat sang ibu dengan penuh kasih sayang.

Namun apa yang terjadi dengan sang ibu juga menjadi suatu penyesalan yang tak terhingga untuk dirinya. Diakuinya karena kelalaian dirinya sang ibu mengalami patah kaki kiri. Untuk itulah Ding memutuskan membawa sang ibu ke rumah sakit dengan cara menggendongnya.

Benar-benar suatu kisah pengorbanan anak yang sangat menyentuh. Tidak banyak anak yang mau berbuat demikian untuk sang ibu pada zaman sekarang ini. Kisah Ding Zhu Ji ini adalah sebuah inspirasi nyata mengenai seorang anak yang berbakti kepada ibunya. Lantas apa yang sudah kita lakukan untuk orangtua kita tercinta, terutama ibu kita?  “Ibumu, Ibumu, Ibumu”, barulah kemudian “Ayahmu”Dalam pandangan Islam, penghormatan terhadap Ibu dilukiskan dalam satu hadist Abu Hurairah RA, yang menceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW menyebut nama ‘ibumu’ hingga tiga kali ketika menjawab pertanyaan seseorang “kepada siapa aku harus berbakti pertama kali.”  Barulah yang ke empat kalinya Nabi menjawab ‘ayahmu. (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548) Menurut Imam Al-Qurthubi, Hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah.

Dalil di atas merupakan dasar nilai bagi umat Islam dalam menghormati seorang ibu. Bagi Negara Indonesia, penghormatan terhadap seorang ibu ditetapkan tanggal 22 Desember sebagai hari besar yang diperingati secara nasional.

Begitu besar pengorbanan seorang ibu sehingga dihormati dengan perayaan yang bertajuk Hari Ibu setiap tahunnya. Kasih sayang ibu memang tak terkira, ibulah yang telah melahirkan kita, merawat serta membesarkan kita dengan penuh kasih sayang. Dalam melakukan semua itu seorang ibu tidak pernah mengharapkan balasan apapun dari anaknya.

Sepantasnya, ibu diposisikan pada derajat yang tinggi. Sebab, dalam kenyataannya ibu mengalami kondisi yang sulit dalam menghadapi masa hamil, kesulitan ketika melahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu.

 

2. Kisah pilu Muhammad Aditya

Muhammad Aditya 5berita.com

Muhammad Aditya 5berita.com

bocah berusia 5 tahun yang tulus menjadi perawat ibunya yang menderita lumpuh mengundang simpati masyarakat. Selama ini penderitaan warga yang tinggal di lingkungan Jarakan Kelurahan Ganung Kidul Kecamatan/Kabupaten Nganjuk nyaris lolos dari perhatian pemerintah.

Menempati rumah kontrakan di Jl Wilis gang IIA, Adit, demikian Muhammad Aditya biasa disapa, menjadi perawat ibunya saat sang ayah menjalankan aktivitas pekerjaan di luar kota. Mulai dari membersihkan rumah, mencuci dan menjemur pakaian, hingga menyiapkan air mandi untuk sang ibu yang hanya bisa terbaring di kasur, dengan tulus dilakukannya. “Subhanallah. Kalau Adit tidak melakukan ini, saya tidak tahu bagaimana kehidupan ini bisa saya jalani,” kata Sunarti, ibu kandung Adit.

Adit adalah anak satu-satunya yang dimiliki Sunarti dari pernikahannya dengan suami kedua yakni Rudi (45) asal Jombang. Dari pernikahan pertamanya wanita asal Tambak Sawah, Sidoarjo dikaruniai 3 anak laki-laki, yang saat ini sudah tinggal terpisah darinya. Kisah pilu itu mulai terjadi saat Adit berusia setahun, tanpa sebab yang pasti mendadak Sunarti tak lagi bisa menggunakan kakinya untuk berjalan. Bahkan organ tubuh dari pinggang ke bawah saat ini sudah tak lagi berfungsi.

Saat ini Sunarti sepenuhnya menggantungkan hidupnya kepada Adit, meski dengan segala keterbatasan yang ada. Rudi, suaminya saat ini hanya pulang seminggu hingga dua minggu sekali untuk mengantarkan uang hasil bekerja, selebihnya banting tulang di luar rumah. “Saya tidak pernah menyuruh dan tidak pernah memintanya melakukan. Seperti menyalakan lampu, saya hanya bilang kalau menggunakan kursi nanti bisa jatuh, gunakan saja sapu untuk menekan saklar, dan dia bisa melakukannya sendiri,” beber Sunarti mengenai apa yang dilakukan anaknya.

Sementara Adit, mengaku sama sekali tidak mengeluh. Meski tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada ibunya, Adit mengaku melakukan semua pekerjaan itu karena rasa sayangnya kepada sang ibu. “Kasihan ibu atit (sakit),” kata Adit lirih, saat ditanya mengenai kelumpuhan ibunya. Adit harus menjadi perawat ibunya di tengah kelumpuhan. Pekerjaan rumah tangga, sepeti mencuci piring dan baju, menanak nasi dengan peralatan sederhana, menyapu dan mengepel lantai serta menyiapkan air mandi untuk sang ibu sudah menjadi rutinitasnya.

Bocah berambut ikal itu mengaku mengenal semua pekerjaan rumah yang tak semestinya sudah dilakukan. Mulai belajar kepada sang ayah saat pekerjaan yang sama dilakukan. Seperti mencuci pakaian, dia melakukan dengan merendam terlebih dahulu menggunakan sabun, menguceknya pelan, memeras dan menjemur pakaian yang didesain sedemikian rupa, sehingga terjangkau tubuhnya yang kecil. “Masak nasi ibu yang belsihkan belasnya. Nanti dimasukkan dandang. Kalau gas habis, saya beli, minta dipasang tabungnya. (Masak nasi ibu yang bersihkan berasnya. Nanti dimasukkan dandang (tempat menanak nasi). Kalau gas habis , saya beli, minta dipasangkan (sekalian) tabungnya),” urai bocah berkulit gelap tersebut.

Dengan segala kesibukannya meladeni sang ibu, Adit tetaplah seorang bocah yang menginginkan kesenangan bermain dengan teman seusianya. Jika rasa itu datang dia langsung meminta izin ke ibunya, namun tak lupa pulang jika pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya sudah harus dilakukan.

Perkembangan terakhir ….

Secerca harapan mulai terlihat. Pemerintah Kabupaten Nganjuk turun tangan atas penderitaan Muhamamd Aditya, bocah berusia 5 tahun yang dengan tulus ikhlas merawat ibunya yang lumpuh. Setelah merujuk ibunya ke rumah sakit untuk menjalani perawatan, Adit, sang bocah akan dimasukkan ke panti asuhan. Sebelumnya, Muhammad Aditya, bocah berusia 5 tahun asal Kabupaten Nganjuk harus menjadi perawat ibunya di tengah kelumpuhan. Pekerjaan rumah tangga, sepeti mencuci piring dan baju, menanak nasi dengan peralatan sederhana, menyapu dan mengepel lantai serta menyiapkan air mandi untuk sang ibu sudah menjadi rutinitasnya.

Sementara sang ibu sejak mengalami kelumpuhan 4 tahun lalu belum sekalipun mendapat penanganan medis. Selama ini hanya pengobatan alternatif yang dituju dengan alasan keterbatasan kemampuan ekonomi..

 

3. Kisah Nyata Anak Gadis Yang Berbakti, Meng Peijie

meng peiji 5berita.com

meng peiji 5berita.com

Mang Peijie, hanyalah seorang gadis biasa, namun sejak beberapa tahun yang lalu, ia menjadi seorang anak yang menginspirasi banyak orang di China. Apa yang membuatnya begitu istimewa?

Sejak kecil, Ming peijie sudah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya. Sang ayah meninggal karena sebuah kecelakaan saat ia masih sangat kecil. Tak lama kemudian, sang ibu juga meninggalkannya dan menitipkan Meng Peijie pada wanita bernama Liu Fanying. Sebenarnya keputusan ini juga berat, kedua wanita ini sama-sama tak memiliki banyak uang untuk merawat Meng.

Namun Liu tetap mengemban amanah itu. 3 tahun kemudian, Liu mengalami kelumpuhan. Ia ditinggalkan oleh sang suami dan Meng Peijie masih berusia 8 tahun. Apa yang bisa dilakukan gadis sekecil itu?

Anak Berbakti dan Berhati Mulia

Tak disangka, Meng Peijie yang masih kecil mau merawat ibu asuhnya. Seharian penuh, gadis kecil itu membantu memandikan Liu, menyuapinya, hingga memapahnya ke tempat tidur. Meski ia menjadi anak yang berbakti pada Liu, gadis ini tetap ingin bersekolah dan tahun 2009 lalu ia berhasil masuk ke Shanxi Normal University.

Tempat itu sangat jauh dari tempat Meng tinggal. Oleh karena itu, ia membawa ibu angkatnya ratusan mil dari tempat tinggal mereka, menuju ke sekolah Meng. Di sana, Meng mencari rumah kos yang dekat agar bisa tetap merawat ibu asuhnya.

Bagi sang ibu, Meng Peijie adalah anak yang luar biasa. Entah bagaimana jadinya kalau ia tak pernah memiliki Meng. Gadis itu tumbuh menjadi anak yang cantik dan baik hati. Ia dengan sabar melatih ibunya bergerak, menyikat gigi, atau memijatkan kaki ibunya. Suatu ketika, Liu bertanya pada Meng, “Apakah hidupmu terasa getir?”

Meng menggeleng, “Tidak, selama aku bersama ibu.” Jawaban ini membuat hati Liu seolah mencair, “Aku sangat berterima kasih pada ibu kandungnya karena telah memberiku seorang anak yang baik dan berbakti.”

Arti Ibu Bagi Meng Peijie

Saat menerima penghargaan sebagai sosok yang inspiratif, Meng sedikit merasakan ada beban di pundaknya saat ini. Sebelumnya ia hanya punya pikiran sederhana. “Kurasa aku sangat naif dan bodoh. Aku tak banyak berpikir bila menghadapi masalah. Di mana aku mengalami kesulitan, aku akan menerimanya dan mencari jalan keluar begitu saja,” kata Meng.

Sejak kecil, Meng hanya punya ibu angkatnya. Namun ia sangat menyayangi ibunya karena baginya, ibu artinya rumah. Siapa yang memiliki ibu, adalah orang yang paling bahagia di dunia. “Yang aku lakukan hanyalah tanggung jawab sebagai seorang anak,” kata Meng dengan polos.

Meng tak banyak bicara ketika media mulai menyoroti kehidupannya. Ia cenderung menjawab dengan sederhana dan melemparkan banyak senyuman. Meski ia sedikit merasa ada beban moral dari penghargaan yang ia terima, namun hal tersebut memberikan keringanan pada hidupnya. Pemerintah memberi ibunya seorang perawat yang akan menggantikan tugas Meng selama gadis 24 tahun itu melanjutkan studinya.

Meski begitu, ia tetap tak melupakan ibunya. Meski bukan ibu kandung, Liu tetaplah rumah baginya dan itulah kebahagiaan sederhana yang ia syukuri. Di kala senggang, Meng akan senantiasa menghabiskan waktu bersama wanita yang sangat berarti baginya itu.

Ladies, Meng memberikan inspirasi bagi kita. Di kala banyak di antara kita yang mengeluh akan kesulitan hidup, setidaknya Meng memberi pencerahan bahwa semua kesulitan pasti ada jalan keluarnya dan sebenarnya, kita lebih kuat dari masalah yang kita hadapi.

 

4. Kisah Anak Berbakti, Kunyahkan Makanan Untuk Ibunya Yang Lumpuh

Gao Qianbo 5berita.com

Gao Qianbo 5berita.com

 selalu menjadi ratu di hati anak-anaknya. Sosok yang merawat dan membesarkan mereka saat mereka belum bisa apa-apa dan belum tahu banyak tentang kehidupan ini. Namun kisah yang satu ini, akan menyentuh hati nurani Anda..

Zhang Rongxiang adalah seorang ibu yang tengah hamil saat sebuah kecelakaan menimpanya pada tahun 2010 lalu. Sejak saat itu, ia koma dan divonis mungkin tak akan pernah bangun lagi. Sang suami, Gao Dejin, dan dokter yang merawat Zhang Rongxiang, menemukan bahwa wanita itu sedang hamil.

Hari-demi hari berlalu, Zhang memang tidak bangun. Namun pada tahun 2011, akhirnya ia melahirkan meski masih dalam kondisi koma. Zhang melahirkan seorang putra yang diberi nama Gao Qianbo. Tak seperti kebanyakan bayi yang lahir, Gao Qianbo tidak merasakan sambutan hangat dan pelukan dari sang ibu.

Gao Dejin, memutuskan membawa istrinya pulang untuk dirawat di rumah. Sang anak juga selalu berada tidak jauh dari sang ibu. Dua tahun berlalu, Gao Qianbo masih setia berada di sekitar ibunya. Ia sudah tumbuh menjadi seorang balita yang lincah.

Dokter memang mengatakan bahwa Zhang mungkin tak akan pernah bangun. Oleh sebab itu, tak mungkin selamanya Gao Dejin membiarkan istrinya di rumah sakit. Sambil terus berharap dan berdoa akan kesembuhan istrinya, Gao Dejin juga merawat sang anak hingga tumbuh jadi balita yang menggemaskan.

Selain menggemaskan, ternyata Qianbo adalah keajaiban yang mematahkan vonis dokter. Pada bulan Mei lalu, suara malaikat kecil Qianbo membangunkan Zhang dari tidur panjangnya selama 2 tahun. Namun wanita ini tak bisa mengunyah makanan. Ia hanya bisa menelan makanan yang masuk di mulutnya. Tak disangka, Qianbo yang masih kecil ini melakukan sesuatu yang sangat menyentuh hati.

Qianbo membantu mengunyahkan makanan bagi ibunya dan menyuapkan makanan dari mulut ke mulut. Koma selama dua tahun memang membuat Zhang Rongxiang mengalami kelumpuhan dan tak bisa bergerak banyak. Namun ternyata, malaikat kecil yang ia lahirkan dan semestinya ia rawat, malah balik merawat ibunya yang sedang tak berdaya.

Kisah hidup Gao Qianbo dan sang ibu ini menunjukkan kasih sayang yang sangat alami di antara ibu dan anak. Seharusnya mungkin seorang ibu yang mencurahkan perhatian dan kasih sayang merawat anaknya yang belum bisa apa-apa. Tapi Tuhan menganugerahkan seorang Qianbo yang begitu penyayang ketika ibunya tak bisa apa-apa. Berapa banyak jempol untuk kasih sayang ibu dan anak ini guys?

 

5. Zhang Da, Kisah Seorang Anak Teladan dari Negeri China

Seorang anak di China pada 27 Januari 2006 mendapat penghargaan tinggi dari pemerintahnya karena dinyatakan telah melakukan “Perbuatan Luar Biasa”. Diantara 9 orang peraih penghargaan itu, ia merupakan satu-satunya anak kecil yang terpilih dari 1,4 milyar penduduk China.

Zhang Da 5berita.com

Zhang Da 5berita.com

Yang membuatnya dianggap luar biasa ternyata adalah perhatian dan pengabdian pada ayahnya, senantiasa kerja keras dan pantang menyerah, serta perilaku dan ucapannya yang menimbulkan rasa simpati. Sejak ia berusia 10 tahun (tahun 2001) anak ini ditinggal pergi oleh ibunya yang sudah tidak tahan lagi hidup bersama suaminya yang sakit keras dan miskin. Dan sejak hari itu Zhang Da hidup dengan seorang Papa yang tidak bisa bekerja, tidak bisa berjalan, dan sakit-sakitan. 

Kondisi ini memaksa seorang bocah ingusan yang waktu itu belum genap 10 tahun untuk mengambil tanggungjawab yang sangat berat. Ia harus sekolah, ia harus mencari makan untuk Papanya dan juga dirinya sendiri, ia juga harus memikirkan obat-obat yang yang pasti tidak murah untuk dia. Dalam kondisi yang seperti inilah kisah luar biasa Zhang Da dimulai. Ia masih terlalu kecil untuk menjalankan tanggung jawab yang susah dan pahit ini. Ia adalah salah satu dari sekian banyak anak yang harus menerima kenyataan hidup yang pahit di dunia ini. Tetapi yang membuat Zhang Da berbeda adalah bahwa ia tidak menyerah.

Hidup harus terus berjalan, tapi tidak dengan melakukan kejahatan, melainkan memikul tanggungjawab untuk meneruskan kehidupannya dan Papanya. Demikian ungkapan Zhang Da ketika menghadapi utusan pemerintah yang ingin tahu apa yang dikerjakannya.  Ia mulai lembaran baru dalam hidupnya dengan terus bersekolah. Dari rumah sampai sekolah harus berjalan kaki melewati hutan kecil. Dalam perjalanan dari dan ke sekolah itulah, Ia mulai makan daun, biji-bijian dan buah-buahan yang ia temui.

Kadang juga ia menemukan sejenis jamur, atau rumput dan ia coba memakannya. Dari mencoba-coba makan itu semua, ia tahu mana yang masih bisa ditolerir oleh lidahnya dan mana yang tidak bisa ia makan.  Setelah jam pulang sekolah di siang hari dan juga sore hari, ia bergabung dengan beberapa tukang batu untuk membelah batu-batu besar dan memperoleh upah dari pekerjaan itu. Hasil kerja sebagai tukang batu ia gunakan untuk membeli beras dan obat-obatan untuk papanya.

Hidup seperti ini ia jalani selama 5 tahun tetapi badannya tetap sehat, segar dan kuat. Zhang Da merawat Papanya yang sakit sejak umur 10 tahun, ia mulai tanggungjawab untuk merawat papanya.  Ia menggendong papanya ke WC, ia menyeka dan sekali-sekali memandikan papanya, ia membeli beras dan membuat bubur, dan segala urusan papanya, semua dia kerjakan dengan rasa tanggungjawab dan kasih. Semua pekerjaan ini menjadi tanggungjawabnya sehari-hari.

Zhang Da menyuntik sendiri papanya. Obat yang mahal dan jauhnya tempat berobat membuat Zhang Da berpikir untuk menemukan cara terbaik untuk mengatasi semua ini. Sejak umur sepuluh tahun ia mulai belajar tentang obat-obatan melalui sebuah buku bekas yang ia beli.  Yang membuatnya luar biasa adalah ia belajar bagaimana seorang suster memberikan injeksi / suntikan kepada pasiennya. Setelah ia rasa mampu, ia nekat untuk menyuntik papanya sendiri. Sekarang pekerjaan menyuntik papanya sudah dilakukannya selama lebih kurang lima tahun, maka Zhang Da sudah terampil dan ahli menyuntik.

Ketika mata pejabat, pengusaha, para artis dan orang terkenal yang hadir dalam acara penganugerahan penghargaan tersebut sedang tertuju kepada Zhang Da, pembawa acara (MC) bertanya kepadanya, 

“Zhang Da, sebut saja kamu mau apa, sekolah di mana, dan apa yang kamu rindukan untuk terjadi dalam hidupmu? Berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah? 

Besar nanti mau kuliah di mana, sebut saja. Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebut saja, di sini ada banyak pejabat, pengusaha, dan orang terkenal yang hadir. 

Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!”

Zhang Da pun terdiam dan tidak menjawab apa-apa. MC pun berkata lagi kepadanya, “Sebut saja, mereka bisa membantumu.” 
Beberapa menit Zhang Da masih diam, lalu dengan suara bergetar ia pun menjawab, 

“Aku mau mama kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisa membantu papa, aku bisa cari makan sendiri, Mama kembalilah!”

Semua yang hadir pun spontan menitikkan air mata karena terharu. Tidak ada yang menyangka akan apa yang keluar dari bibirnya. Mengapa ia tidak minta kemudahan untuk pengobatan papanya, mengapa ia tidak minta deposito yang cukup untuk meringankan hidupnya dan sedikit bekal untuk masa depannya?  Mengapa ia tidak minta rumah kecil yang dekat dengan rumah sakit? Mengapa ia tidak minta sebuah kartu kemudahan dari pemerintah agar ketika ia membutuhkan, pasti semua akan membantunya. 

Mungkin apa yang dimintanya, itulah yang paling utama bagi dirinya. Aku mau Mama kembali, sebuah ungkapan yang mungkin sudah dipendamnya sejak saat melihat mamanya pergi meninggalkan dia dan papanya. Kisah di atas bukan saja mengharukan namun juga menimbulkan kekaguman. Seorang anak berusia 10 tahun dapat menjalankan tanggung jawab yang berat selama 5 tahun. Kesulitan hidup telah menempa anak tersebut menjadi sosok anak yang tangguh dan pantang menyerah. 

Zhang Da boleh dibilang langka karena sangat berbeda dengan anak-anak modern. Saat ini banyak anak yang segala sesuatunya selalu dimudahkan oleh orang tuanya. Karena alasan sayang, orang tua selalu membantu anaknya, meskipun sang anak sudah mampu melakukannya.

Incoming search terms:

  • 12 foto misterius yang tidak dapat dijelaskan
  • brankasvideo
  • cara membuat vagina
  • Pemain bokep india
  • 12 foto misterius
  • benda untuk onani
  • alat buat onani
  • payudara mia khalifa
  • cara membuat vagina mainan
  • kehidupan zhang da sekarang