5 Fakta Jakarta | 5berita.com
5Berita.Com
Senin, 16 Januari 2017
Kumpulan Berita Seru
Monas_5berita

5 Fakta Jakarta

Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta) adalah Ibukota Indonesia. Jakarta merupakan kota metropolitan yang banyak menarik hati masyarakat Indonesia untuk datang dan bekerja, tidak mengherankan memang, karena memang pusat bisnis Indonesia ada di Jakarta, dan hampir semua hal ada di jakarta. Jakarta juga merupakan kota dengan Mall terbanyak di Dunia!!!

Dibalik kemegahanya itu ternyata jakarta memiliki banyak fakta – fakta yang menarik, berikut kami berikan 5 Fakta Jakarta:

1. Nama Jakarta

pelabuha-sunda-kelapa_5berita

Ternyata sebelum namanya menjadi Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta). Jakarta pernah terhitung 5 kali berganti nama.

  • Sunda Kelapa (sebelum 1527)
    Jakarta pertama kali dikenal sebagai pelabuhan Kerajaan Sunda Kelapa. Sunda kelapa merupakan pelabuhan terpenting saat itu, karena merupakan pusat perdagangan yang ramai disinggahi oleh pedagang – pedagang dan pelaut dari luar pulau jawa dan juga karena lokasinya yang berdekatan dengan Ibukota saat itu (bogor). Sekedar tambahan, ternyata Sunda kelapa juga bukan nama pertama, pada abad ke-12 pelabuhan ini lebih dikenal dengan nama pelabuhan lada.
  • Jayakarta (1527–1619)
    Pada abad ke-16 Surawisesa, Raja Sunda meminta bantuan portugis untuk membantu mendirikan benteng pertahanan sebagai perlindungan dari ancaman serangan Cirebon yang saat itu ingin memisahkan diri dari kerajaan Sunda. Namun sebelum upaya tersebut terlaksana, Cirebon yang dibantu Demak langsung menyerang pelabuhan tersebut. Sunda kelapa dibumihanguskan saat itu, banyak rakyat Sunda yang tewas, termasuk syahbandar pelabuhan. Berdasarkan tragedi tersebut, tragedi dimana Sunda kelapa direbut oleh Fatahillah, Sudiro, walikota Jakarta(1956) menetapkan tanggal 22 Juni sebagai hari jadi Jakarta, Fatahillahpun mengganti nama menjadi Jayakarta yang berarti “Kota Kemenangan”.
  • Batavia (1619–1942)
    Pada awal abad ke-17 Jayakarta yang dipimpin oleh pangeran Jayakarta dikalahkan oleh VOC yang dipimpin oleh Jan Pieterson Coen dan kemudian mengubah nama Jayakarta menjadi Batavia. Selama kolonialisasi belanda, batavia berkembang menjadi kota yang besar dan penting. Untuk membangun kota, belanda banyak mengimpor budak – budak yang kebanyakan dari mereka berasal dari Bali, Sulawesi, Maluku, Tiongkok, dan India. Sebagian orang berpendapat orang – orang ini mendirikan komunitas yang sekarang dikenal dengan suku Betawi.
    Pada tanggal 9 Oktober 1740, terjadi kerusuhan di Batavia dengan terbunuhnya 5.000 orang Tionghoa. Dengan terjadinya kerusuhan ini, banyak orang Tionghoa yang lari ke luar kota dan melakukan perlawanan terhadap Belanda. Dengan selesainya Koningsplein (Gambir) pada tahun 1818, Batavia berkembang ke arah selatan. Tanggal 1 April 1905 di Ibukota Batavia dibentuk menjadi dua kotapraja atau gemeente, yakni Gemeente Batavia dan Meester Cornelis. Tahun 1920, Belanda membangun kota taman Menteng, dan wilayah ini menjadi tempat baru bagi petinggi Belanda menggantikan Molenvliet di utara. Pada tahun 1935, Batavia dan Meester Cornelis (Jatinegara) telah terintegrasi menjadi sebuah wilayah Jakarta Raya.
  • Jakarta Toko Betsu Shi
    Saat Perang Dunia II, tepatnya maret tahun 1942, Jepang masuk ke Pulau Jawa dan langsung menghentikan pembangunan di Batavia. Tentara Dai Nippon lalu mengganti nama Batavia menjadi Djakarta Toko Betsu Shi.
    Jepang ingin menghancurkan semua yang pernah didirikan Belanda di Jakarta. Tidak hanya mengubah nama, Jepang juga menghancurkan patung JP Coen di Waterlooplein. Monumen Jan Pieterszoon Coen yang merupakan pendiri Batavia, letaknya berada di depan Kementerian Keuangan sekarang.
  • Jakarta (1945-sekarang)Setelah Indonesia memproklamisasikan kemerdekaannya pada tahun 1945, Nama Jakarta Toko Betsu Shi di ganti dan hanya diambil Jakartanya saja. Sebelum tahun 1959, Jakarta(Djakarta) merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat. Pada tahun 1959, status Kota Djakarta mengalami perubahan dari sebuah kotapraja di bawah wali kota ditingkatkan menjadi daerah tingkat satu (Dati I) yang dipimpin oleh gubernur. Yang menjadi gubernur pertama ialah Soemarno Sosroatmodjo, seorang dokter tentara. Pengangkatan Gubernur waktu itu dilakukan langsung oleh Presiden Sukarno. Pada tahun 1961, status Jakarta diubah dari Daerah Tingkat Satu menjadi Daerah Khusus Ibukota (DKI) dan gubernurnya tetap dijabat oleh Sumarno.

    Semenjak dinyatakan sebagai ibu kota, penduduk Jakarta melonjak sangat pesat akibat kebutuhan tenaga kerja kepemerintahan yang hampir semua terpusat di Jakarta. Dalam waktu 5 tahun penduduknya berlipat lebih dari dua kali.

    Laju perkembangan penduduk ini pernah coba ditekan oleh gubernur Ali Sadikin pada awal 1970-an dengan menyatakan Jakarta sebagai “kota tertutup” bagi pendatang. Kebijakan ini tidak bisa berjalan dan dilupakan pada masa-masa kepemimpinan gubernur selanjutnya. Hingga saat ini, Jakarta masih harus bergelut dengan masalah-masalah yang terjadi akibat kepadatan penduduk, seperti banjir, kemacetan, serta kekurangan alat transportasi umum yang memadai.

2. Maskot Jakarta

Siapa yang bilang kalau maskot jakarta adalah Monas? Tak banyak yang tahu kalau maskot kota Jakarta sebenarnya bukanlah Monumen Nasional (Monas). Maskot kota Jakarta yang benar adalah Elang Bondol. Salah satu jenis elang yang hanya ada di Kepulauan Seribu, Jakarta.

Maskot-Jakarta_5berita

Kenapa Elang Bondol bukan yang lain?
Penetapan si Elang Bondol menjadi maskot kota Jakarta, bermula dari Keputusan Gubernur No. 1796 Tahun 1989. Gubernur Ali Sadikin menetapkan elang berwarna coklat dan berkepala putih dengan posisi bertengger pada sebuah ranting sambil mencengkeram salak Condet sebagai maskot Jakarta.

Sebenarnya Elang Bondol dengan nama latin ‘Haliastur Indus’ ini merupakan burung migran yang juga terdapat di Australia, India, Cina Selatan, dan Filipina. Jakarta merupakan salah satu tempat persinggahan tetap burung yang mampu terbang hingga ketinggian 3.000 meter ini.

Maskot Jakarta ini dapat ditemui dalam bentuk tugu di hampir semua perbatasan provinsi Jakarta dengan Banten atau dengan Jawa Barat. Sayangnya, maskot yang kota Jakarta ini sedang terancam punah. Populasi Elang Bondol semakin berkurang karena perdagangan satwa ilegal dan rusaknya habitat wilayah rawa di Jakarta. Elang Bondol yang masih tersisa hanya dapat ditemui di Cagar Alam Laut Pulau Rambut dan Kebun Binatang Ragunan.

Sedangkan asal muasal salak condet dijadikan maskot adalah karena salak condet atau Salacca zalacca merupakan buah asli Jakarta yang tumbuh di kawasan Condet. Salak ini tidak kalah tenar dibandingkan dengan salak pondoh atau salak bali yang konon ketenarannya sudah mencapai seluruh wilayah Jawa dan Sumatera. Kawasan Condet sendiri aslinya merupakan kawasan cagar budaya seluas 18.228 Hektar. Namun seiring dengan bertambahnya pemukiman dan masyarakat pendatang, maka perkebunan salak serta proporsi masyarakat Betawi di kawasan tersebut semakin berkurang.

Lalu mengapa Elang Bondol yang dipilih mewakili Jakarta? Ini karena filosofi Elang yang ada di balik kisah hidup Elang.

Selain perkasa, Elang Bondol merupakan salah satu burung yang memiliki umur panjang. Bahkan bisa sampai 70 tahun. Di usianya yang ke-40, Elang Bondol dihadapkan pada suatu pilihan sulit dalam hidupnya, apakah dia memilih pasrah dengan kondisinya, atau dia rela men’transformasi’ dirinya, namun dia akan dapat bertahan hidup hingga 30 tahun lagi.

Pada usianya ke-40 tersebut, seekor elang akan mengalami kesulitan hidup yang luar biasa. Paruhnya menjadi panjang hingga hampir mencapai dada, sehingga sulit untuk mencabik mangsa. Demikian pula dengan kuku cakar yang menjadi andalannya untuk menangkap mangsa dan menyerang musuh, akan menjadi panjang namun rapuh.

Dan bulu-bulu tubuhnya yang semakin tebal dan panjang, menyebabkan tubuhnya menjadi berat, sehingga dia tak mampu terbang dengan bebas. Bila kondisi tersebut dibiarkan, tentu akhirnya elang akan semakin melemah dan akhirnya mati tak berdaya.

Hanya ada satu jalan untuk membuatnya menjadi kembali perkasa, yaitu dia harus memaksakan dirinya terbang tinggi hinggi ke puncak bukit. Lalu membuat sarang di tepi jurang. Dan di sarang itulah dia harus menjalani proses ’transformasi’ diri.

Tindakan pertama yang dilakukan adalah mematukkan paruh sekeras-kerasnya ke bebatuan hingga paruhnya lepas. Dan setelah lepas, dia harus menunggu paruh baru tumbuh selama kurang lebih 5 bulan lamanya sampai paruh menjadi cukup kuat. Setelah paruh tumbuh, penderitaan berikutnya adalah dia harus mencabuti semua kuku-kuku di cakar. Dan setelah mencabuti kuku-kuku cakar, dia harus mencabuti bulu-bulu di tubuhnya satu persatu.

Filosofi itulah yang membuat mengapa Elang Bondol dipilih mewakili Jakarta. Agar Jakarta bisa setegar Elang Bondol dalam menjalani hidup yang tak selalu mudah.
Begitupun Jakarta kita, sengaja menjadikan Elang Bondol sebagai logo agar Jakarta kita berusia panjang dan tegar menghadapi tantangan zaman yang penuh persaingan.

3. Monas

Monas_5berita

Monumen Nasional, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Monas, merupakan monumen(tugu)  peringatan setinggi 132 meter (433 kaki) yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyatIndonesia untuk merebut kemerdekaan dari pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Pembangunan monumen ini dimulai pada tanggal 17 Agustus 1961 di bawah perintah presiden Sukarno, dan dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975. Tugu ini dimahkotai lidah api yang dilapisi lembaran emas yang melambangkan semangat perjuangan yang menyala-nyala.

Rancangan Bangunan Monaspun identik dengan hari kemerdekaan Indonesia, lidah api yang seringgi 17meter, pelataran bawah 45×45 meter. tingginya adalah 132m dan pelataran atas 11meter.

Ada sedikit misteri tentang Monas yang hingga kini masih di perdebatkan, yaitu bentuk lidah apinya yang menyerupai bentuk wanita yang sedang bersimpuh dan menghadap ke istana negara. tidak ada jawaban pasti apakah itu disengaja atau tidak dan apa maksud dari sosok tersebut.

4. Mall 

Mall_5berita

Seperti yang sudah dibahas di awal, Jakarta merupakan kota dengan Mall terbanyak di Dunia. Jumlah pusat belanja yang ada di Jakarta mencapai 170 lebih dan telah melebihi batas ideal dari jumlah penduduknya. Banyaknya mall yang ada di Jakarta tidak lepas dari kebiasaan masyarakatnya yang kerap menjadikan mal sebagai obat depresi dan stres yang membuat pengembang terus mengembangkan ide mereka untuk membangun pusat belanja yang memiliki banyak fungsi. Alhasil area terbuka hijaupun semakin menipis.

5. Museum

Museum_5berita

Ternyata Jakarta memiliki banyak museum, sedikitnya ada 47 museum yang ada di jakarta. Namun sayangnya sedikit sekali warga Jakarta yang mau berkunjung ke Museum, ditambah sangat kecilnya peran pemerintah untuk menjaga Museum -museum tersebut, sehingga banyak museum yang tidak terurus.

Incoming search terms:

  • bokep pasutri
  • Download bokep waria
  • tempat prostitusi jakarta barat
  • lokalisasi di jakarta barat
  • video bokep pasutri
  • video ngentot suami istri
  • download bokep pasutri
  • video mesum pasutri
  • Prostitusi jakarta barat
  • download bokep jual istri