5 Fakta Unik Proklamasi 1945 | 5berita.com
5Berita.Com
Kamis, 19 Januari 2017
Kumpulan Berita Seru
5-fakta-unik-proklamasi-1945

5 Fakta Unik Proklamasi 1945

Sebagai warga negara yang baik pasti kita semua tahu kapan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan, yap!! 17 Agustus 1945. Peristiwa ini juga yang akhirnya mendasari Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang hingga saat ini terus kita lakukan, pada 17 Agustus tahun ini negara kita akan berumur 70 tahun. Namun rasanya dari tahun ke tahun perayaan ini semakin kurang meriah, entah apa hal yang terjadi, kalian juga pasti merasakan hal ini bukan?? ketika masih tahun 90an acara kemerdekaan pasti akan berlangsung secara meriah.
Hal yang paling mungkin membuat kemeriahan perayaan kemerdekaan menjadi semakin berkurang adalah karena kurangnya pemahaman kita akan perjuangan bangsa ini dalam memerdekakan Negara Republik Indonesia, oleh karena itu ada baiknya kita mengetahui 5 Fakta Unik Proklamasi 1945 berikut ini yang kami peroleh dari berbagai sumber:
1. Soekarno sedang sakit pada saat Pembacaan Proklamasi – Tahukah Anda pada saat pembacaan Proklamasi sebenarnya Pahlawan Proklamator sekaligus Presiden Pertama kita ini sedang sakit? Soekarno sedang menderita malaria yang menyebabkan dia tidak enak badan dan demam. Soekarno menyebutnya sebagai: “Pating greges”. Pada saat itu Bung Karno harus begadang bersama sahabatnya untuk menyusun naskah Proklamasi di rumah Laksamana Maeda. Setelah selesai, Bung Karno dialiri chinineurethan intramusculair dan meminum obat pil brom chinine serta kemudian tidur. Besoknya Bung Karno bangun pada pukul 09:00 tepat satu jam sebelum upacara berlangsung. Setelah selesai mengumandangkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan dilakukan upacara bendera, Bung Karno kembali ke kamar tidur dan beristirahat namun revolusi telah dimulai.
2. Proklamator sebenarnya bukan hanya Soekarno-Hatta – Pada saat penyusunan naskah Proklamasi yang hadir di tempat itu dan ikut rapat tentu bukanlah Soekarno dan Hatta saja melainkan ada sahabat-sahabat mereka seperti Achmad Soebardjo, Sajuti Melik dan Soekarni. Namun usul Bung Hatta supaya semua yang hadir di rapat tersebut menandatangi teks proklamasi tersebut ditolak oleh Soekarni, salah satu pemuda yang hadir pada penyusunan naskah. Oleh karenanya, Bung Hatta menggerutu, “Huh, diberi kesempatan membuat sejarah tidak mau.”
3. Upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia – Fakta unik proklamasi lainnya adalah upacara berlangsung tanpa protokol, korps musik, konduktor dan pancagram. Namun pada saat itu rakyat Indonesia yang telah berada di halaman rumah Soekarno serentak menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan berbaris rapi tanpa ada yang memandu. Sungguh luar biasa! dibanding saat ini ketika upacara harus ada yang menertibkan bahkan ada beberapa yang malas untuk melakukan upacara.
4. Negatif Dokumentasi Kemerdekaan Diletakan Di Bawah Pohon – Berkat Kebohongan Frans Mendoer, Fotografer yang mendokumentasikan detik-detik menjelang kemerdekaan yang menyatakan pada tentara Jepang bahwa ia tidak meiliki negatif photo tersebut dan sudah menyerahkannya pada Barisan pelopor, sebuah gerakan pelopor. Padahal negatif dokumentasi tersebut sengaja ia tanam dibawah pohon dekat halaman Kantor harian Asia Raja dan sampai saat ini-lah dokumentasi tersebut bisa kita saksikan.
5. Bendera dari kain Tukang Soto dan Seprai – Jika saat ini bendera negara dibuat dengan seapik-apiknya, hal tersebut jauh berbeda dengan bendera merah putih pertama yang dikibarkan saat proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Warna putih dari bendera didapat dari seprai tidur Bung Karno sedangkan warna merahnya didapat dari kain tukang soto.

Sehari sebelum Upacara Kemerdekaan RI, Fatmawati yang merupakan istri Bung Karno telah menjahit bendera merah putih. Sayangnya bendera berukuran 50 cm itu dianggap terlalu kecil. Fatmawati pun membongkar lemarinya dan menemukan kain seprai putih tetapi ia tidak menemukan kain merah.

Fatmawati meminta tolong seorang pemuda bernama Lukas Kastaryo untuk mencari kain merah. Akhirnya Lukas membeli kain merah milik seorang penjual soto. Fatmawati kemudian menjahit menjadi bendera yang baru berukuran 276×200 cm, bendera pusaka Sang Saka Dwi Warna Merah Putih.

 

Semoga dengan mengetahui 5 fakta diatas kita bisa lebih menghargai kemerdekaan yang kita alami saat ini, jikalaupun kita merasa belum merdeka di beberapa aspek, maka kita harus memperjuangkan kemerdekaan itu seperti para pahlawan Indonesia memperjuangkan kemerdekaan negara ini dulu dan terus tanamkan dihati “AKU CINTA INDONESIA“.