5 Mitos Tentang Perubahan Iklim | 5berita.com
5Berita.Com
Selasa, 17 Januari 2017
Kumpulan Berita Seru
5-mitos-tentang-perubahan-iklim_suhu-dingin-tanda-tak-terjadinya-pemanasan-global

5 Mitos Tentang Perubahan Iklim

Hari ini adalah batas terakhir pengiriman proposal setiap negara (PBB memperkirakan ada 195 Negara yang berpartisipasi) untuk menghadapi perubahan iklim dan bagaimana solusi mencegah perubahan ke arah yang semakin memburuk.

Panitia konferensi iklim di Paris berharap, KTT akan menghasilkan kesepakatan baru dalam mengurangi emisi gas rumah kaca global, sehingga membatasi perubahan iklim dalam jangka panjang.

Australia, yang telah mengumumkan rencana untuk mengurangi emisi sebesar 26-28% pada tahun 2030, diperkirakan akan bergabung dengan 195 negara lainnya dalam KTT tersebut, yang berlangsung pada bulan Desember nanti. Perubahan iklim adalah masalah bersama seluruh negara yang ada dibumi, jadi harus diselesaikan secara bersama pula. Meskipun ada dorongan untuk melakukan tindakan kolektif, nyatanya, masih ada skeptisisme yang beredar di beberapa tempat.

Berikut adalah 5 Mitos Tentang Perubahan Iklim yang dipercaya bahwa perubahan iklim bukanlah hasil perbuatan manusia dan pemanasan global bisa menjadi hal yang baik:

1. Pemanasan Global tak terjadi karena suhunya dingin
5-mitos-tentang-perubahan-iklim_suhu-dingin-tanda-tak-terjadinya-pemanasan-global
Sebagian wilayah di Eropa dan Amerika mengalami badai salju parah yang mengakibatkan suhu terendah pada tahun 2015, hal ini membuat banyak orang beranggapan bahwa pemanasan global sudah tak terjadi lagi, karena harusnya apabila terjadi pemanasan global, maka suhu akan memanas pula.

Namun pakar iklim dari Universitas New South Wales dan Akademi Sains Australia, Matthew England mengatakan bahwa “Iklim sangat berbeda: Ini adalah rata-rata dari semua cuaca selama lebih dari setahun atau semusim dan perubahan iklim adalah tentang perubahan dalam rata-rata cuaca tersebut selama beberapa dekade hingga seabad.”

 

Pada tahun 2013, panel pakar iklim PBB melaporkan ketidakadaan peningkatan suhu global sejak tahun 1998, di samping adanya peningkatan emisi gas rumah kaca buatan manusia.

Tapi penelitian terbaru menunjukkan, tak ada jeda dalam pemanasan bumi. Sebaliknya pemanasan suhu global bumi terus bertambah tiap tahunnya, 10 tahun terakhir merupakan suhu terpanas dalam sejarah selama 17 tahun terakhir. Data dari Badan Antariksa NASA serta Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA) menemukan, tahun 2014 adalah tahun terpanas dalam sejarah moderen.

2. Perubahan Iklim telah terjadi sepanjang sejarah Bumi
5-mitos-tentang-perubahan-iklim_perubahan-iklim-sudah-terjadi-sepanjang-sejarah
Sudah muncul perubahan iklim besar di masa lalu, terutama selama zaman es ketika lapisan es raksasa menebal dan semakin meluas di atas wilayah Arktik, Antartika dan Greenland.

“Siklus zaman es dipicu oleh getaran sangat halus pada kemiringan bumi,” kata Profesor Matthew.

Sebuah studi yang dipimpin oleh Universitas Nasional Australia (ANU) pada tahun 2014 menunjukkan, permukaan air laut tetap stabil selama ribuan tahun sebelum adanya industrialisasi global.

“Dalam 6.000 tahun terakhir sebelum timbulnya kenaikan permukaan air laut, permukaan laut bisa dibilang cukup stabil,” ujar Profesor Kurt Lambeck dari ANU.

“Selama 150 tahun terakhir, kami telah melihat peningkatan ini, kenaikan permukaan laut naik ini, dengan tingkat beberapa milimeter per tahun dan di catatan kami terdahulu, kami tak melihat perilaku yang serupa,” katanya.

Profesor Matthew memperingatkan bahwa beradaptasi terhadap dampak masa depan dari perubahan iklim yang potensial, ‘secara astronomis akan mahal’.

“Iklim di masa depan akan menjadi begitu berbeda sehingga kita akan harus merekayasa ulang begitu banyak dari apa yang telah kita bangun dan itu adalah proses yang sangat mahal: untuk merekayasa ulang jalur kereta api untuk memungkinkan adanya hari-hari gelombang panas yang berlebihan, untuk merekayasa ulang garis pantai untuk mengatasi naiknya permukaan air laut, menggerakkan seluruh kota yang tak lagi sesuai dengan kenaikan permukaan laut.”

3. Karbon Dioksida buatan manusia sangat kecil dibanding dengan siklus alamiah
5-mitos-tentang-perubahan-iklim_karbondioksida-manusia-sangat-kecil
Karbon dioksida (CO2), salah satu gas yang menyebabkan perubahan iklim, secara alami ada di atmosfer sebagai bagian dari siklus karbon Bumi.

Menurut Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat, CO2 dari aktivitas manusia menyumbang sekitar 82% dari seluruh emisi gas rumah kaca AS pada tahun 2013.

Para ilmuwan mengukur tingkat karbon dioksida sesuai dengan berapa banyak molekul CO2 yang ada dalam satu juta molekul udara.

Profesor Matthew mengatakan, gas rumah kaca, kini, 40% lebih tinggi dibanding sebelum revolusi industri.

“Kami tahu dengan pasti bahwa emisi manusia adalah penyebab peningkatan karbon dioksida ini,” katanya.

4. Pakar iklim menciptakan kepanikan agar mendapat dana
5-mitos-tentang-perubahan-iklim_pakar-iklim-sengaja-menciptakan-kepanikan
“Mitos ini benar-benar tak masuk akal,” kata Profesor Matthew. “Para ilmuwan justru mencari tahu kebenaran dalam sistem iklim; Jika mereka bisa membuktikan fisika dari efek rumah kaca dan mengapa hal ini menjadi masalah, mereka layak mendapat penghargaan Nobel.”

“Dibutuhkan waktu lama agar komunitas sains menjadi sevokal kami hari ini: Kami telah melihat proyeksi 30 atau 40 tahun menjadi kenyataan, kami melihat seluruh bidang ilmu ini mengabdi untuk membuat proyeksi dan pada saat kami kembali duduk kembali, kami melihat mereka menjadi kenyataan.”

Awal tahun ini, Akademi Sains Nasional AS dan Masyarakat Kerajaan Inggris telah merilis pernyataan bersama yang bertujuan untuk menggerakkan debat publik mulai dari apakah perubahan iklim tengah terjadi, hingga pertanyaan tentang bagaimana dunia meresponnya.

“Sekarang lebih pasti daripada sebelumnya, berdasarkan banyak bukti, bahwa manusia mengubah iklim Bumi,” kata publikasi bersama tersebut.

Pemerintah dunia, termasuk Australia dan Amerika Serikat, telah mengakui secara terbuka bahwa perubahan iklim adalah nyata.

“Kita harus mengambil tindakan karena manusia memang berkontribusi,” kata Perdana Menteri Australia, Tony Abbott, pekan lalu.

5. Luas es Antartika tengah berkembang
5-mitos-tentang-perubahan-iklim_luas-es-antartika-tengah-berkembang
Pada tahun 2014, es laut Antartika meluas ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang mencakup lebih dari 20 juta kilometer persegi untuk pertama kalinya sejak pencatatan dimulai.

Dr Jan Lieser, dari Pusat Penelitian Kerjasama Iklim dan Ekosistem Antartika (ACE CRC), mengatakan, pertumbuhan es laut adalah gejala pemanasan global.

“Air yang lebih segar membeku pada suhu yang lebih tinggi, dan kita tahu bahwa air laut di sekitar Antartika menjadi kurang asin sebagian karena cepat menyusutnya lapisan es Antartika yang tebal di atas daratan.”

“Faktor-faktor seperti angin, hujan salju dan tingkat keasinan dari air, semuanya memainkan peran penting dalam proses ini, dan kita tahu bahwa semua masukan ini telah berubah sebagai bagian dari perubahan besar dalam sistem global.”

Para ilmuwan mengatakan, hal yang juga penting untuk membuat perbedaan antara es laut dengan es daratan di Antartika.

Sementara laut Antartika telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir, lapisan es-nya telah menyusut dengan tingkat rata-rata sekitar 100 gigaton per tahun.