5 Wanita Pahlawan Indonesia Selain Kartini

Pahlawan Indonesia Selain Kartini
<a href="https://www.kalderanews.com/2020/04/selain-kartini-inilah-deretan-perempuan-tangguh-indonesia/" target="_blank" rel="noopener">Selain Kartini, Inilah Deretan Perempuan Tangguh Indonesia – http ...</a>

Siapa yang tidak mengenal Raden Ajeng Kartini (R.A. Kartini) ? hampir rakyat Indonesia pasti mengetahui wanita Indonesia yang satu ini, atau paling tidak pernah mendengar namanya, bahkan ada hari khusus yang memperingati pahlawan wanita yang satu ini. Ia dinobatkan sebagai pahlawan wanita di Indonesia sebab perjuangannya dalam menyerukan kesetaraan hak antara pria dan wanita.

Pahlawan Indonesia Selain Kartini
Selain Kartini, Inilah Deretan Perempuan Tangguh Indonesia – http …

Kisah hidup Kartini sungguh tragis. Namun mimpi-mimpinya luar biasa. Ia hanya mampu bersekolah sampai tingkat Europese Lagere School (setara dengan Sekolah Dasar), tidak dibolehkan memiliki kehidupan di luar melayani suami. Belum lagi ditekan dengan nilai-nilai keharusan sebagai wanita Jawa seperti harus rela dimadu dan mementingkan ketersediaan tubuh dibanding mengejar kebutuhan diri. Namun ia tidak kehabisan akal dan melalui surat ke kawan-kawan asal Belandanya, ide-idenya menginspirasi revolusi dalam pendidikan untuk kaum wanita.

Selain Kartini, ada juga wanita lain yang mendapatkan gelar di Indonesia, sebab perjuangan mereka yang bahkan melebihi para pria pada saat itu. Berikut 5 Wanita Indonesia Selain Kartini :

1. Cut Nyak Dhien

Dhien yang lahir di keluarga aristokrat Islam memutuskan untuk ikut berperang setelah kematian suaminya, Ibrahim Lamnga wafat dalam Ekspedisi Aceh Dua. Bersama suami keduanya, Teuku Umar, ia bergabung dalam militer Aceh dan berpartisipasi dalam perang gerilya. Ketika Teuku Umur dibunuh dalam usahanya mata-mata Belanda, Putrinya, Cut Gambang menangis di depan jasad ayahnya. Dhien kemudian menamparnya dan membuat pernyataan yang seperti diambil dari dialog dalam Game of Thrones; “sebagai Wanita Aceh, kita tidak seharusnya menangisi mereka yang gugur.” Setelah kematian Umar, Dhien melanjutkan perlawanan terhadap Belanda dengan kelompok militer kecil sampai penghancuran di tahun 1901, saat Belanda mengembangkan taktik baru. Saat Dhien makin tua dan berkurang kompetensinya dalam medan perang, Cut Gambang melanjutkan perlawanan.

Baca juga:   5 Kebiasaan Buruk Ketika Kuliah Online yang Wajib Dihindari, Bisa Membuat Mengulang Mata Kuliah

2. Cut Nyak Meutia

Meutia bergabung dalam militer Aceh yang dipimpin oleh suaminya, Teuku Cik Tunong, dimana mereka melakukan perlawanan sukses terhadap Belanda. Namun Cik Tunong ditangkap dan ditembak mati oleh Belanda di tahun 1905. Tak lama, pengganti Cik Tunong, Pang Naggroe gugur dalam dan membuat Meutia menggantikannya pemimpin pasukan. Saat itu anggotanya hanya tinggal 45 dengan senjata 13 senapan. Tahun 1910, Meutia ditemukan oleh Belanda di tempat persembunyiannya di Paya Cicem. Dengan bersenjatakan rencong, ia melawan, namun ditembak mati di kepala dan dadanya.

3. Raden Dewi Sartika

Seakan menjadi suksesor Kartini, Dewi Sartika merupakan pelopor pembangunan fasilitas pendidikan bagi anak-anak Indonesia. Ia memiliki passion yang meledak-ledak terhadap dunia ajar-mengajar. Bahkan di masa ia masih 10 tahun, ia pernah membuat warga Cicalengka -tempat tinggalnya saat itu, kebakaran jenggot akibat aksinya mengajarkan baca tulis dan bahasa Belanda kepada anak-anak pembantu kepatihan. Sartika memiliki nasib yang lebih baik dari Kartini, dimana ia memiliki Paman, Bupati Martanagara, yang mendukungnya lantaran memiliki visi sama, dan pada tahun 1904, Sartika membuka Sakola Istri yang merupakan sekolah untuk perempuan pertama se-Hindia-Belanda. Sekolah ini terus berkembang dan menginspirasi bermunculannya sekolah-sekolah serupa.

4. Martha Christina Tiahahu

Tumbuh besar hanya dengan ayahnya, Tiahahu selalu mengikuti kemana ayahnya pergi. Salah satunya saat mengikuti strategi penyerangan yang bermula pada gerilya terhadap pemerintahan Belanda. Ia turut berpartisipada di pertarungan di Pulau Saparua, dan berhasil dalam operasi membakar Benteng Duurstede sampai rata. Setelah Vermeulen Kringer menjadi pemimpin militer Belanda di Maluku, Tiahahu beserta ayahnya dan Pattimura ditangkap pada Oktober 1817, dimana ia tidak dihukum karena masih dibawah umur. Ia menggunakan kesempatan itu untuk terus berperang.

Baca juga:   5 Anggapan Orang Indonesia Kepada Cewek Jepang Yang Salah

5. Hajjah Rasuna Said

Ada yang baru bahwa Rasuna Said merupakan nama seorang wanita? Said merupakan wanita asal Minangkabau yang aktif dalah Sarekat Rakyat dan kemudian menjadi anggota Indonesian Muslim Organisation. Wanita dengan wawasan luas yang tidak takut mengecam Belanda ini dipenjara oleh Belanda pada tahun 1932 di Semarang akibat aktivisme-nya. Namun itu tidak menyurutkan semangatnya dan pada tahun 1945, ia kembali bergabung di Dewan Perwakilan Sumatra dan Dewan Pertimbangan Agung di tahun 1959 sampai akhir hayatnya pada 1965.асус ноутбук отзывы3д томография